Manusiasenayan.id – Di kawasan Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, hamparan ladang bunga aster lagi masuk fase paling sibuk: musim panen. Sejak pagi, petani sudah turun ke kebun, motong satu per satu bunga aster (Callistephus chinensis) yang siap jual. Bukan panen kecil-kecilan—dalam satu kali panen, jumlahnya bisa tembus 5.000 sampai 7.000 batang.

Bunga-bunga aster itu kemudian dirapikan, disortir, dan diikat per 10 batang. Setiap ikatnya dijual dengan harga Rp10 ribu. Skemanya sederhana, tapi ritmenya cepat. Begitu panen, langsung masuk jalur distribusi ke pasar bunga dan pengepul. Bagi petani di Pasirlangu, kecepatan ini penting karena bunga adalah komoditas segar: telat dikit, kualitas bisa turun.

Aster jadi pilihan banyak petani bukan tanpa alasan. Tanaman ini relatif adaptif dengan kondisi dataran tinggi seperti Cisarua. Perawatannya memang butuh ketelatenan, tapi hasilnya bisa dipanen secara berkala. Sekali masuk siklus panen, ladang bisa terus “ngasih” batang demi batang yang siap jual. Di tengah fluktuasi harga komoditas pertanian lain, aster memberi kepastian ritme pendapatan, meski skalanya harian dan bergantung volume panen.

Di lapangan, panen aster juga menyerap tenaga kerja sekitar kebun. Dari proses pemotongan, pengikatan, sampai pengangkutan, semuanya butuh tangan manusia. Aktivitas ini bikin kebun bukan cuma ruang tanam, tapi juga ruang hidup ekonomi warga sekitar. Pagi panen, siang beresin ikatan, sore kirim ke pengepul—polanya berulang dan sudah jadi rutinitas.

Harga Rp10 ribu per ikat isi 10 batang mungkin terdengar kecil buat sebagian orang kota. Tapi kalau dikalikan ribuan batang dalam satu kali panen, nilainya jadi signifikan untuk menopang kebutuhan harian petani. Uang dari bunga aster ini dipakai buat biaya produksi berikutnya, kebutuhan rumah tangga, sampai ongkos sekolah anak.

Di Pasirlangu, aster bukan sekadar tanaman hias buat acara atau dekorasi. Ia adalah komoditas kerja, hasil dari proses tanam dan rawat yang konsisten. Saat bunga-bunga itu dipanen dan keluar dari kebun, yang ikut bergerak bukan cuma batang dan kelopak, tapi juga roda ekonomi kecil yang terus berputar di desa.