Manusiasenayan.id – Di tengah politik yang makin penuh jarak, H. AA Ahmad Nawardi justru dikenal karena satu hal sederhana tapi langka: hadir langsung ke bawah. Bukan cuma pas kampanye, tapi sebagai kebiasaan.

Lahir di Sampang, dan kini bermukim di Surabaya, Ahmad Nawardi adalah sosok yang cukup familiar di kalangan masyarakat Madura, terutama tokoh masyarakat, pejabat daerah, sampai warga lapisan bawah. Gayanya santun, ramah, dan nggak ribet sekat golongan. Semua disapa. Semua didengar.

Kedekatannya dengan rakyat bukan citra dadakan. Ahmad Nawardi dikenal sering turun langsung, silaturahmi, dan blusukan buat nyerap aspirasi masyarakat bawah. Kadang harus ngorbanin waktu, tenaga, bahkan kenyamanan. Tapi dari sanalah kepercayaan itu tumbuh—pelan tapi nempel.

Sebelum jadi Senator, jalurnya juga nggak instan. Ia adalah mantan wartawan, orang yang terbiasa mendengar, mencatat, dan memahami realitas dari banyak sisi. Ia juga pernah aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kombinasi dunia pers dan politik ini bikin instingnya kuat soal satu hal: apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Nama Ahmad Nawardi juga punya akar panjang di dunia kampus. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya—ruang awal yang menempa cara berpikir kritis, independen, dan berani bersuara. Dari pers mahasiswa ke Senayan, jalurnya konsisten: suara rakyat.

Di Pemilu Legislatif 2024, kepercayaan publik Jawa Timur ke Ahmad Nawardi nggak main-main. Ia kembali terpilih sebagai Anggota DPD RI Periode 2024–2029 dengan raihan 3.281.105 suara—angka besar yang mencerminkan luasnya basis dukungan, terutama dari akar rumput.

Saat ditanya soal rencana ke depan, jawabannya nggak muluk. Fokusnya satu: menjaga amanah masyarakat Jawa Timur dan bekerja sesuai aspirasi yang dititipkan rakyat. Ia juga secara terbuka menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jawa Timur atas kepercayaan yang diberikan.

Ahmad Nawardi bukan tipe senator yang gemar panggung besar. Karakternya lebih ke pendengar, penjembatan, dan pekerja lapangan. Politik baginya bukan soal jarak kekuasaan, tapi kedekatan kemanusiaan.

Di saat banyak elite sibuk bicara di atas,
figur seperti Ahmad Nawardi ngingetin:
politik juga soal duduk bareng, dengar pelan-pelan, dan pulang membawa amanah.

Nggak ribut.
Nggak banyak gaya.
Tapi kerjanya nyampe ke bawah.