Manusiasenayan.id – Nama A. Abd. Waris Halid mungkin nggak sering wara-wiri di panggung sensasi, tapi di Sulawesi Selatan, jejaknya cukup jelas. Dia tipe tokoh yang tumbuh dari kampus, organisasi, lalu politik, bukan dari jalan pintas.
Lahir di Watampone, 20 Februari 1973, Waris Halid punya latar akademik yang rapi. Gelar S.S. dan M.M. bukan sekadar tempelan, karena dunia pendidikan memang jadi rumah lamanya. Kedekatannya dengan lingkungan intelektual makin kelihatan saat ia dipercaya menjabat sebagai Ketua IKA Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin periode 2022–2026. Posisi yang butuh kemampuan merawat jejaring, bukan cuma nama besar.
Masuk ke kontestasi nasional, Waris Halid tampil di Pemilu Legislatif 2024 dan hasilnya nggak main-main. Dengan 504.201 suara sah, ia terpilih sebagai Anggota DPD RI Provinsi Sulawesi Selatan periode 2024–2029. Angka ini nunjukin satu hal: basisnya nyata, bukan sekadar viral.
Sebagai Senator DPD RI, perannya jelas beda dengan politisi partai. Fokusnya ke kepentingan daerah, penguatan aspirasi lokal, dan jembatan antara pusat dan daerah. Dengan latar akademisi dan organisasi alumni, Waris Halid ada di posisi strategis buat ngomong soal kebudayaan, pendidikan, dan identitas daerah—isu yang sering kalah rame dibanding politik kekuasaan.
Gaya politiknya cenderung tenang dan institusional. Bukan tipe yang cari sorotan cepat, tapi main di konsistensi. Di tengah dinamika Sulawesi Selatan yang kompleks—dari isu budaya, pendidikan, sampai representasi daerah—model senator kayak gini justru relevan.Abd. Waris Halid adalah contoh politisi yang datang dari ruang diskusi, bukan ruang gaduh. Jalurnya mungkin nggak heboh, tapi daya tahannya panjang.
Bukan politisi yang paling keras suaranya.
Tapi sering kali, yang paling bertahan justru yang paling sabar main peran.
