Manusia Senayan.id – Kalau kebanyakan politisi datang dari panggung debat, Dr. Andi Sofyan Hasdam justru lama hidup di ruang sunyi: ruang operasi, ruang kuliah, dan ruang birokrasi. Jalurnya nggak instan, tapi panjang dan konsisten.

Lahir di Ujung Pandang (Makassar), 4 Februari 1956, Andi Sofyan Hasdam dikenal sebagai dokter spesialis saraf (Sp.N.)—profesi yang nuntut ketelitian, kesabaran, dan keputusan presisi. Karakter itu kebawa sampai ke dunia pemerintahan. Belakangan, dia terpilih sebagai Senator DPD RI periode 2024–2029 mewakili Kalimantan Timur, dengan 179.346 suara sah. Angka yang nunjukin: namanya masih dipercaya publik.

Sebelum ke Senayan versi DPD, rekam jejaknya sudah kenyang pengalaman. Dua periode menjabat sebagai Wali Kota Bontang (2001–2011), Andi dikenal sebagai kepala daerah yang fokus ke pelayanan publik, kesehatan, dan pembangunan manusia. Di masa itu, Bontang sering disebut sebagai salah satu kota dengan tata kelola cukup rapi di Kalimantan Timur—dan itu tercermin dari deretan penghargaan nasional yang ia terima.

Mulai dari Manggala Karya BKKBN, Piala Citra Bhakti Abdi Negara, sampai Satya Lencana dari Presiden RI, semua datang di periode kepemimpinannya. Bukan karena pencitraan, tapi karena program yang jalan—terutama soal keluarga berencana, pelayanan publik, dan kepemudaan. Bahkan Karang Taruna nasional sempat menobatkannya sebagai Pembina Terbaik.

Di luar pemerintahan, Andi Sofyan Hasdam juga aktif di dunia akademik. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Pendidikan formalnya pun bukan kaleng-kaleng: S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB. Jadi ketika bicara soal pembangunan berkelanjutan, dia bukan sekadar jargon—ada basis ilmunya.

Organisasi? Jangan ditanya. Dari IDI Kaltim, Muhammadiyah, ICMI, Majelis Ulama, sampai Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Kaltim, Andi Sofyan Hasdam adalah tipe tokoh yang menjembatani banyak simpul sosial. Ulama masuk, akademisi nyambung, birokrat paham, tenaga medis respect.

Masuk DPD RI, peran Andi Sofyan Hasdam jadi relevan di tengah isu besar Kalimantan Timur: IKN, lingkungan, kesehatan publik, dan dampak pembangunan besar-besaran. Dengan latar dokter dan kepala daerah, posisinya unik—nggak cuma bicara politik, tapi juga dampak kebijakan ke tubuh manusia dan ruang hidup.

Andi Sofyan Hasdam mungkin bukan politisi paling rame di media sosial. Tapi dia tipe yang kerjanya kelihatan setelah waktu berjalan. Dari saraf manusia sampai saraf daerah, dia paham satu hal: kalau salah urat, seluruh sistem bisa lumpuh.

Tenang, senior, dan tetap relevan.