Manusiasenayan.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti lagi-lagi angkat suara soal wajah buram dunia pendidikan. Bukan soal kurikulum atau ranking sekolah, tapi soal kekerasan yang masih sering terjadi di lingkungan pendidikan, dari level paling dasar sampai jenjang lanjutan.
Di sela acara Wisuda Akbar Festival Al Qur’an Muhammadiyah Boarding School (MBS) Klaten yang digelar di Gedung GBK, Abdul Mu’ti mengaku hampir setiap hari mendapat laporan soal praktik kekerasan di sekolah. Laporannya bukan cuma cerita, tapi dalam bentuk video, potongan unggahan Instagram, sampai kiriman dari berbagai platform media sosial.
“Setiap hari saya menerima kiriman video yang isinya kekerasan di dunia pendidikan, dari berbagai level dan jenis pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti. Menurutnya, fenomena ini jadi sinyal keras bahwa sistem pendidikan Indonesia masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.
Yang bikin makin miris, pagi sebelum berangkat ke Klaten pun Abdul Mu’ti kembali menerima video serupa. Pengirimnya bukan orang sembarangan, melainkan mantan diplomat senior Indonesia. “Pagi tadi, di perjalanan ke sini, saya buka WhatsApp dan mendapat kiriman video kekerasan dari mantan diplomat. Saya hanya bisa menjawab dengan sangat prihatin, karena memang masih banyak masalah di dunia pendidikan kita,” tegasnya.
Di tengah realitas itu, Abdul Mu’ti menilai kehadiran MBS Klaten jadi oase penting. Menurutnya, MBS tidak hanya mencetak hafidz dan hafidzah, tapi juga membentuk generasi yang membawa akhlak Qur’ani ke tengah masyarakat. Ini dinilai krusial, terutama di tengah tantangan moral generasi Z dan generasi Alfa yang kian kompleks.
“MBS Klaten melahirkan generasi yang bukan hanya hafal Al Qur’an, tapi juga diharapkan hadir di masyarakat dengan nilai-nilai Qur’ani. Ini sumbangan besar untuk menjawab krisis moral generasi bangsa,” papar Abdul Mu’ti.
Ia menekankan, cahaya Al Qur’an sejatinya tidak hanya ditujukan untuk kemajuan umat Islam, tapi juga kemajuan umat manusia secara luas. Menghafal Al Qur’an memang penting, tapi proses selanjutnya jauh lebih menantang.
“Menghafal itu awal. Setelahnya, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Al Qur’an sama pentingnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PD Muhammadiyah Klaten Iskak Sulistya menyebut sebanyak 310 santri diwisuda dalam acara tersebut. Di tengah persaingan dunia pendidikan yang makin ketat, ia berharap sekolah-sekolah Muhammadiyah bisa terus menjadi teladan dalam pengelolaan pendidikan.
“Mudah-mudahan kita bisa menjadi tuladha, contoh baik dalam mengelola pendidikan,” pungkas Iskak.
