Manusiasenayan.id – Nama Tgk. Ahmada bukan asing bagi masyarakat Aceh. Lahir di Meulayo, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, membentuk karakter yang tenang, bersahaja, namun tegas dalam sikap. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi perjalanan panjangnya di dunia sosial dan politik.
Kini, Ahmada mengemban amanah sebagai Anggota DPD RI Periode 2024–2029 dari Daerah Pemilihan Aceh. Duduk sebagai Senator DPD RI, ia membawa suara Aceh ke tingkat nasional tanpa sekat kepentingan partai. Posisi ini memberinya ruang lebih luas untuk fokus memperjuangkan kebutuhan daerah—dari pendidikan, sosial-keagamaan, hingga kesejahteraan masyarakat.
Konsistensi Jalan: Pendidikan dan Organisasi
Perjalanan Ahmada tidak dibangun secara instan. Dari sisi pendidikan, ia menamatkan studi di Kelompok Belajar Tiara Keusuma, jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan lulus pada 2010. Latar belakang ini membentuk perspektifnya dalam membaca dinamika masyarakat dan memahami persoalan sosial secara kontekstual.
Jauh sebelum terjun ke politik nasional, Ahmada sudah aktif dalam dunia organisasi. Sejak tahun 2000, ia terlibat di Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dan dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua. Pengalaman berorganisasi inilah yang menempa kepemimpinannya—belajar mendengar, berdialog, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Dari Aktivisme ke Kursi DPD RI
Masuk ke ranah politik formal, Ahmada membawa modal sosial yang kuat: kedekatan dengan masyarakat dan rekam jejak konsistensi. Pada 2024, ia resmi dilantik sebagai Anggota DPD RI dengan nomor anggota B-2. Momentum ini menandai peralihan perannya—dari aktivis dan tokoh masyarakat menjadi representasi Aceh di lembaga legislatif tingkat nasional.
Di tengah dinamika politik yang kerap gaduh, Ahmada memilih jalur kerja yang tenang namun substansial. Ia melihat politik bukan sekadar perebutan panggung, melainkan sarana memperjuangkan kepentingan publik secara berkelanjutan.
Bagi generasi muda Aceh, sosok Ahmada menjadi relevan karena kemampuannya menjembatani nilai-nilai lokal dengan tantangan zaman. Ia memahami bahwa hari ini, Aceh tidak hanya bicara soal identitas dan tradisi, tetapi juga soal pendidikan yang inklusif, kesempatan kerja, dan masa depan yang adil.
Pada akhirnya, Tgk. Ahmada adalah potret wakil daerah yang tidak tercerabut dari akarnya. Dari Meulayo, untuk Aceh, dan kini di Senayan, ia membawa satu pesan sederhana: politik yang bekerja dalam diam, tapi terasa dampaknya bagi masyarakat.
