Manusiasenayan.id – Isu soal kampus yang punya program studi dianggap nggak relevan sama kebutuhan industri lagi rame dibahas di mana-mana. Ditambah lagi muncul anggapan kalau beberapa prodi sekarang sudah mengalami oversupply lulusan, bikin banyak orang mulai waswas: apakah bakal ada jurusan yang ditutup?
Menjawab kegaduhan itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badri Munir Sukoco, akhirnya buka suara. Ia menegaskan kalau penutupan program studi bukan langkah utama yang bakal diambil pemerintah.
Menurut Badri, Kemdiktisaintek justru lebih fokus melakukan penataan prodi secara bertahap dan terukur. Evaluasi bakal dilakukan lewat kajian menyeluruh, bukan asal tutup cuma karena jumlah peminat turun atau lulusan susah cari kerja.
“Penutupan hanya menjadi opsi terakhir,” kata Badri dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/4/2026).
Artinya, sebelum sampai ke tahap penutupan, pemerintah bakal melihat dulu apakah sebuah prodi masih punya kualitas akademik yang layak, dosen yang memadai, hingga peluang pengembangan ke depan. Kalau ternyata sebuah program studi sudah sulit dibina dan nggak memenuhi standar mutu, barulah opsi penutupan dipertimbangkan.
Badri juga menekankan kalau langkah penataan ini bukan berarti kampus harus tunduk total ke dunia industri. Menurutnya, perguruan tinggi tetap punya tugas besar buat membangun ilmu pengetahuan, karakter, daya pikir kritis, sampai menjaga fondasi peradaban bangsa.
Karena itu, evaluasi prodi nggak cuma melihat soal serapan kerja lulusan. Pemerintah juga bakal mempertimbangkan kualitas pembelajaran, kontribusi keilmuan, kebutuhan strategis nasional, sampai pemerataan pembangunan daerah.
Di sisi lain, penataan prodi ini juga dikaitkan dengan target besar menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah ingin bonus demografi yang dimiliki Indonesia nggak cuma jadi angka statistik, tapi benar-benar jadi tenaga pendorong kemajuan bangsa.
Buat mewujudkan itu, Kemdiktisaintek menyiapkan beberapa strategi. Mulai dari penguatan kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran berbasis proyek, pengembangan program lintas disiplin, skema major-minor, sampai peningkatan kolaborasi riset.
Nggak cuma itu, pemerintah juga memastikan bidang ilmu dasar, sosial, humaniora, dan pendidikan tetap punya posisi penting. Sebab kampus dinilai bukan sekadar tempat mencetak pekerja, tapi juga ruang lahirnya inovasi, budaya, kepemimpinan, dan solusi sosial.
Lewat pendekatan ini, pemerintah berharap lulusan perguruan tinggi nantinya bukan cuma siap kerja, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, membangun inovasi, dan menjawab tantangan zaman.
