ManusiaSenayan.id Kadang hidup itu kayak: kamu mulai dari hal yang keliatannya “biasa aja”, tapi ternyata jadi pintu ke level yang lebih gede. Buat Al Hidayat Samsu—yang sering dipanggil Dayat—ceritanya dimulai dari tempat yang paling relate sama banyak orang: ruang kelas. Bukan cuma buat belajar, tapi buat paham realita.

Dayat lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan, 18 September 1995. Dari awal, jalurnya emang lekat sama dunia pendidikan. Ia kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM): lulus S1 Pendidikan Jasmani (2017) dan lanjut S2 Pendidikan Jasmani dan Olahraga (2022). Intinya, dia bukan tipe yang sekadar “ngambil gelar”—tapi yang beneran hidup di ekosistem pendidikan.

Abis lulus, Dayat sempat jadi guru olahraga di SMA Negeri 11 Makassar. Di fase ini, dia ketemu langsung sama “real life problem” pendidikan: fasilitas yang nggak selalu merata, akses yang beda-beda antar wilayah, dan harapan orang tua yang kadang berat banget buat sekolah. Dari situ Dayat kayak dapet satu kesimpulan: banyak problem pendidikan nggak selesai cuma di sekolah—akar besarnya sering ada di kebijakan.

Dari Aktivisme ke Legislatif

Nah, dari titik itu Dayat mulai bergerak lebih jauh. Sejak mahasiswa, ia aktif di organisasi. Pernah tercatat di HMI dan juga ICMI. Aktivisme bikin dia makin peka sama isu publik, dan bikin dia terbiasa dengerin orang, bukan cuma ngomong.

Terus, Dayat ambil langkah yang cukup berani buat anak muda: masuk politik formal. Pada Pemilu 2019, ia terpilih jadi anggota DPRD Kota Makassar periode 2019–2024, dan bertugas di Komisi A. Ini momen di mana “anak ruang kelas” beneran masuk ke ruang yang ngatur arah kebijakan.

Sebagai legislator kota, Dayat ikut ngurus isu-isu yang nyangkut pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan urusan birokrasi. Background pendidikannya juga kebawa: dia cenderung deket sama isu pendidikan, kepemudaan, dan olahraga. Apalagi, di 2022 dia juga jadi Ketua Umum FOPI Kota Makassar—jadi vibes “pendidikan-olahraga-anak muda” itu konsisten banget.

Pendidikan Bukan Cuma Wacana, Tapi Misi

Yang bikin ceritanya makin “dapet” adalah: Dayat nggak berhenti di jabatan. Di luar panggung politik, ia tercatat sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Laniang Makassar, yang ngelola pendidikan dari SD, SMP, sampai SLB. Ini bukan sekadar program tempelan—tapi bentuk konkret kalau pendidikan buat dia itu misi sosial: harus bisa diakses semua orang, termasuk yang selama ini sering ketinggalan.

Buat Dayat, pendidikan itu bukan cuma soal materi pelajaran. Tapi soal keadilan: siapa yang punya peluang, siapa yang sering ke-skip sistem. Dari situ, arah langkah berikutnya jadi makin jelas.

Naik Level: Dari Kota ke Nasional

Tahun 2023, Dayat maju ke panggung yang lebih besar: DPD RI. Ia tercatat sebagai salah satu figur muda yang ikut kontestasi DPD dari Sulawesi Selatan, dan prosesnya butuh dukungan masyarakat yang nyata—bukan sekadar rame di sosmed.

Lalu di Pemilu 2024, Dayat terpilih jadi Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Selatan periode 2024–2029. Transisinya dari DPRD kota ke DPD RI itu kayak “naik map”: dari ngurus kebijakan level kota, ke ruang yang bawa aspirasi daerah langsung ke level nasional.

Di DPD, Dayat dikenal menaruh perhatian ke isu yang dekat sama hidup warga: pendidikan berkeadilan, ketahanan energi dan pangan, sampai urusan ekonomi yang dampaknya kerasa di rumah tangga. Gaya bicaranya juga cenderung “daerah dulu”—bahwa kebijakan nasional harus nyambung sama kondisi lapangan, bukan cuma rapi di dokumen.

Representasi Generasi Baru

Dengan usia yang masih muda saat masuk periode 2024–2029, Dayat jadi salah satu wajah generasi baru di lembaga perwakilan daerah. Vibes-nya: pengen jadi jembatan antara aspirasi warga—terutama anak muda—dengan ruang keputusan.

Kalau ditarik benang merahnya, perjalanan Dayat itu konsisten: dari ruang kelas tempat dia ngajar dan ngeliat realita, sampai ruang kebijakan tempat keputusan dibuat. Dia nunjukin satu hal yang simpel tapi penting: guru nggak selalu berhenti di papan tulis. Kadang, dia maju lebih jauh—biar suara ruang kelas kedengeran sampai ke ruang kebijakan negara.