Manusiasenayan.id – Tragedi memilukan kembali datang dari dunia pendidikan. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri. Bukan cuma bikin hati remuk, kasus ini juga jadi tamparan keras buat negara.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan bahwa peristiwa ini harus dibaca sebagai alarm serius bagi pemerintah. Menurutnya, negara punya kewajiban mutlak untuk memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang terbebani hidupnya hanya karena miskin.
“Kasus anak SD di NTT ini sangat memilukan dan harus jadi alarm keras bagi semua pihak. Jika benar ada motif ekonomi, bahkan sampai anak tak mampu membeli buku tulis, itu menunjukkan negara belum sepenuhnya hadir melindungi anak dari tekanan kemiskinan yang berdampak pada mental dan keberlangsungan pendidikan,” kata Lalu Hadrian.
Buat Lalu, kemiskinan bukan cuma soal perut lapar atau dompet kosong. Di usia anak-anak, tekanan ekonomi bisa berubah jadi beban mental yang berbahaya. Apalagi kalau urusannya sudah menyentuh kebutuhan dasar pendidikan—hal yang seharusnya ditanggung negara, bukan dipikul sendirian oleh anak.
Ia menekankan, ke depan pemerintah harus lebih serius memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah. Jangan sampai masih ada anak yang merasa sekolah itu mahal, menakutkan, atau bikin stres hanya karena masalah biaya.
“Negara wajib memastikan tidak ada anak yang merasa terbebani karena kemiskinan. Sekolah harus jadi ruang aman, bukan ruang tekanan,” tegasnya.
Namun, tanggung jawab ini nggak berhenti di negara saja. Lalu juga mengingatkan pentingnya peran orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar. Menurutnya, banyak kasus tragis terjadi karena keluhan anak dianggap sepele, padahal itu bisa jadi sinyal awal masalah mental yang serius.
“Orang tua dan lingkungan harus lebih peka terhadap kondisi mental anak, tidak menganggap remeh keluhan kecil, dan aktif memberi dukungan emosional,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan yang cukup menohok. Anak-anak, kata dia, tidak seharusnya memikul beban hidup sendirian—apalagi beban yang bersumber dari kegagalan sistem.
“Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian, apalagi jika itu terkait kebutuhan belajar yang semestinya menjadi tanggung jawab negara,” pungkas Lalu.
Tragedi ini bukan sekadar berita duka. Ini peringatan keras bahwa masih ada celah besar dalam perlindungan anak dan pemerataan akses pendidikan. Dan kalau negara telat belajar dari kejadian ini, yang jadi korban bisa lebih banyak lagi.
