Manusiasenayan.id – Di Senayan yang isinya banyak nama senior, Athari Gauthi Ardi datang sebagai salah satu wajah generasi 90-an. Lahir di Padang, 15 April 1992, Athari adalah contoh politisi muda yang jalurnya nggak zig-zag: bisnis, organisasi, lalu parlemen.

Secara latar, Athari tumbuh di lingkungan pendidikan urban Jakarta. Dari SD Muhammadiyah 24, lanjut ke Al Azhar Rawamangun, sampai SMAN 70 Jakarta—sekolah yang dikenal keras soal disiplin dan daya saing. Ia kemudian menempuh pendidikan Ilmu Hukum, yang jadi bekal penting saat akhirnya masuk ke dunia kebijakan.

Sebelum duduk di kursi DPR, Athari sudah kenal dunia kerja dan tanggung jawab. Ia pernah menjabat sebagai Finance & Administration Manager di perusahaan maritim, lalu naik jadi Direktur di perusahaan transportasi. Pengalaman ini bikin cara pandangnya soal ekonomi dan industri nggak cuma teoritis, tapi berangkat dari praktik lapangan.

Masuk politik lewat Partai Amanat Nasional (PAN), Athari termasuk kader yang cepat dipercaya. Ia kini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN dan aktif di organisasi pemuda PPILIDI Muda sebagai Wakil Ketua Umum. Jalur ini nunjukin satu hal: ia bukan sekadar “anak muda numpang lewat”, tapi bagian dari dapur organisasi.

Kepercayaan itu terkonversi di Pemilu Legislatif, saat Athari terpilih sebagai Anggota DPR RI Fraksi PAN dari Dapil Sumatera Barat I. Di parlemen periode 2024–2029, ia duduk di Komisi VII—komisi yang ngebahas energi, riset, industri, dan lingkungan. Isu-isu strategis yang langsung nyambung ke masa depan ekonomi nasional dan transisi energi.

Prestasinya juga sempat tercatat secara simbolik. Tahun 2021, ia mendapat KNPI Award sebagai Tokoh Muda Inspiratif, dan pada 2023 menerima MKD Awards DPR RI. Bukan soal piala, tapi sinyal bahwa kinerjanya terpantau dan diakui.

Athari Gauthi Ardi bukan politisi yang suka gaya berlebihan. Gayanya cenderung rapi, teknis, dan generasional—mewakili anak muda yang tumbuh di antara idealisme dan realitas industri.

Di parlemen yang sering terasa jauh dari generasi muda,
figur seperti Athari ngasih pesan sederhana:
anak 90-an juga bisa duduk di meja keputusan—asal paham kerja dan tanggung jawabnya.

Bukan paling berisik.
Tapi jelas arahnya.