Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin Maluku, orang biasanya langsung kebayang laut biru, musik, dan rasa persaudaraan yang kuat. Nah, dari tanah itu juga lahir sosok Bisri As Shiddiq Latuconsina, S.Sos. — figur yang sekarang duduk sebagai Anggota DPD RI Provinsi Maluku periode 2024–2029. Lahir di Ambon, 12 Desember 1977, Bisri bukan tipe tokoh yang muncul tiba-tiba pas musim pemilu. Jalannya ke Senayan versi DPD ditempa lewat proses panjang di dunia organisasi dan kepemudaan.
Di Pemilu Legislatif 2024, Bisri sukses mengantongi 110.163 suara sah. Angka ini bukan cuma soal menang atau kalah, tapi bukti kepercayaan masyarakat Maluku yang ngelihat rekam jejak, bukan sekadar janji. Buat anak tongkrongan, ini tipe kemenangan yang “organik”—datang dari jaringan, relasi, dan konsistensi kerja di lapangan.
Sebelum duduk di DPD RI, Bisri dikenal sebagai aktivis organisasi lintas spektrum. Dia pernah menjabat sebagai Ketua KNPI Provinsi Maluku, posisi yang nggak main-main karena KNPI itu dapur besarnya anak muda lintas latar belakang. Dari situ, Bisri terbiasa ngadepin perbedaan, ngelola konflik, dan nyatuin kepentingan—skill yang relevan banget buat wakil daerah.
Nggak berhenti di situ, Bisri juga pernah jadi Ketua MPW Pemuda Pancasila Maluku. Posisi ini menempatkan dia di ruang yang lebih keras dan dinamis, di mana kepemimpinan diuji bukan cuma lewat wacana, tapi lewat ketegasan sikap dan kemampuan menjaga stabilitas sosial. Di sisi lain, Bisri juga aktif di organisasi keagamaan sebagai Bendahara Wilayah Gerakan Pemuda Ansor, yang nunjukin kalau dia nyaman bergerak di ruang nilai, moderasi, dan kebangsaan.
Yang menarik, Bisri juga dipercaya sebagai Penasehat BKPRMI Provinsi Maluku. Ini memperlihatkan spektrum perannya yang luas: dari pemuda nasionalis, organisasi kemasyarakatan, sampai pembinaan remaja masjid. Jarang ada figur yang bisa diterima lintas komunitas tanpa kehilangan identitas. Tapi di situlah kekuatan Bisri—dia nyambung ke banyak kalangan tanpa harus jadi orang lain.
Masuk ke DPD RI, Bisri membawa satu hal penting: perspektif daerah kepulauan. Maluku bukan Jawa. Isunya beda. Tantangannya beda. Dari konektivitas antar-pulau, pelayanan dasar, sampai pembangunan yang sering tertinggal karena faktor geografis. Sebagai senator daerah, peran Bisri krusial buat nyuarain aspirasi Maluku ke level nasional—tanpa harus ribut, tapi konsisten.
Buat generasi muda Maluku, Bisri As Shiddiq Latuconsina adalah contoh bahwa jalur organisasi itu masih relevan. Bahwa politik nggak selalu soal elite dan dinasti, tapi bisa lahir dari proses panjang, relasi sosial, dan kerja nyata. Dari Ambon ke Senayan, ceritanya bukan instan—dan justru itu yang bikin kisahnya layak didengar.
