ManusiaSenayan.id – Di tengah hingar-bingar politik nasional yang sering terasa jauh dari rakyat kecil, ada satu cerita yang justru dimulai dari desa. Imas Aan Ubudiah, atau akrab dipanggil Teh Imas, lahir dan besar di Garut, Jawa Barat. Sejak kecil, ia hidup dalam suasana pedesaan yang penuh dengan nilai gotong royong, kesederhanaan, dan semangat kebersamaan.

Pendidikan Teh Imas berawal di SD Saribakti, dilanjutkan ke MTS Matihaul Ulum Garut, kemudian SMA NA Al-Musadadiyah Garut, hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di STAI YAMISA Bandung jurusan Pendidikan Agama Islam. Latar belakang pendidikan ini membentuk karakter Teh Imas yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kepedulian sosial, sekaligus memperkuat tekadnya untuk memperjuangkan masyarakat kecil.

Bagi Teh Imas, desa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Langkah Politik: Dari Akar Rumput Menuju Senayan 

Karier politik Teh Imas dimulai dari kerja nyata di masyarakat. Ia dikenal dekat dengan warga desa karena aktif turun langsung, mendengarkan aspirasi, dan ikut mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

Pada Pemilu 2024, Teh Imas maju sebagai calon legislatif DPR RI melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Dapil Jawa Barat XI yang mencakup Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya. Persaingan di dapil ini cukup ketat karena diikuti banyak figur populer. Namun, berkat basis dukungan yang kuat di desa, Teh Imas berhasil meraih 126.813 suara, menempatkannya sebagai salah satu wakil rakyat yang terpilih ke Senayan bersama kader PKB lainnya, Oleh Soleh.

Kemenangan ini membuktikan bahwa kepercayaan warga desa bisa menjadi kekuatan politik yang nyata jika dikelola dengan tulus dan konsisten.

Visi Ekonomi Kerakyatan: Desa Sebagai Pusat Pertumbuhan

Sejak awal duduk di DPR RI, Teh Imas membawa satu misi besar: membangun ekonomi kerakyatan yang dimulai dari desa. Ia meyakini, desa memiliki potensi yang sangat besar, mulai dari sumber daya alam hingga kreativitas warganya. Namun, selama ini potensi tersebut sering terhambat karena minimnya dukungan kebijakan dan akses pasar.

Komitmen itu ia wujudkan dengan turun langsung mendengar aspirasi masyarakat. Pada 24 April 2025, Teh Imas menggelar “Giat Aspirasi Masyarakat” di Pondok Pesantren An-Najaah, Sukawening, Garut. Dalam kegiatan ini, pelaku usaha lokal berbagi tantangan yang mereka hadapi, mulai dari perizinan usaha yang rumit, kesulitan memasarkan produk, hingga akses modal yang terbatas.

Produk unggulan seperti ikan air tawar dengan sistem bioflok dan jamur konsumsi juga menjadi perhatian. Kedua sektor ini punya potensi besar untuk berkembang, bahkan sampai ke pasar nasional, jika mendapatkan dukungan yang tepat.

Suara Desa di Pusat Kebijakan

Di DPR RI, Teh Imas ditempatkan di Komisi VI, yang membidangi urusan perdagangan, perindustrian, investasi, dan koperasi. Posisi ini sangat relevan dengan visinya tentang ekonomi kerakyatan. Melalui komisi ini, ia memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada pelaku UMKM dan masyarakat desa, agar mereka bisa naik kelas dan bersaing dengan produk dari luar.

Pada pertengahan 2025, misalnya, Teh Imas ikut serta dalam pembahasan mengenai persoalan harga beras yang melonjak meski stok nasional dinyatakan melimpah. Ia juga memberi perhatian pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,12% year-on-year di kuartal II 2025, dengan harapan capaian itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat di desa-desa, bukan hanya di kota-kota besar.

Dengan posisinya di Senayan, Teh Imas menjadi penghubung antara aspirasi masyarakat desa dan kebijakan nasional.

Tantangan Besar di Jalan Perubahan 

Perjalanan membangun ekonomi kerakyatan penuh tantangan. Banyak pelaku UMKM di desa yang belum memiliki legalitas usaha, sehingga sulit mengakses program pemerintah maupun pembiayaan formal. Masalah pemasaran juga jadi hambatan besar, di mana produk lokal kalah bersaing karena kurangnya promosi dan kemasan yang menarik.

Selain itu, akses modal sering kali terbatas dan diiringi bunga pinjaman yang memberatkan. Infrastruktur distribusi pun belum sepenuhnya mendukung, sehingga produk desa kesulitan menembus pasar yang lebih luas.

Teh Imas melihat semua hambatan ini sebagai pekerjaan rumah bersama yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan masyarakat itu sendiri.

Desa Sebagai Pemain Utama Ekonomi Nasional

Bagi Teh Imas, desa bukan hanya bagian dari Indonesia, tapi jantungnya. Ia percaya, jika desa diberdayakan, maka fondasi ekonomi nasional akan semakin kuat. Dengan mendukung UMKM dan produk lokal, kesenjangan antara desa dan kota dapat diperkecil.

Visi besarnya adalah menjadikan desa sebagai pemain utama dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lewat kebijakan yang tepat, ia ingin membangun rantai ekonomi yang benar-benar berpihak pada rakyat, bukan hanya pada pelaku usaha besar.

Dari Desa, Untuk Indonesia 🇮🇩

Perjalanan Teh Imas dari desa di Garut hingga ke Senayan adalah kisah tentang keberanian membawa suara rakyat kecil ke panggung nasional. Ia hadir bukan sekadar untuk meramaikan politik, tetapi untuk memastikan bahwa desa punya tempat dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah.

Jika upayanya berhasil, desa tak lagi hanya jadi penonton, tapi akan berdiri sejajar sebagai kekuatan utama pembangunan Indonesia. Dari desa, Teh Imas membawa mimpi besar: membangun Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera lewat kekuatan ekonomi kerakyatan.