Manusiasenayan.id – Di dunia politik yang sering datang-pergi cepat, Evi Apita Maya termasuk tipe yang bertahan karena jaringan dan konsistensi. Bukan figur instan, tapi hasil perjalanan panjang di organisasi, profesi, dan politik daerah.
Evi kembali terpilih sebagai Anggota DPD RI Periode 2024–2029 setelah meraih 315.007 suara sah di Pemilu Legislatif 2024. Ini bukan periode pertamanya. Lima tahun sebelumnya, ia juga sudah duduk sebagai Senator DPD RI (2019–2024). Artinya, kepercayaan publik ke Evi bukan sekali lewat—tapi berulang dan terkonfirmasi.
Secara latar pendidikan, Evi adalah lulusan Magister Kenotariatan (M.Kn.) Universitas Mataram. Basis hukum ini bikin pendekatannya ke isu daerah cenderung rapi secara legal dan prosedural—nggak sekadar emosional, tapi mikir implikasi jangka panjang.
Yang bikin Evi Apita Maya menonjol adalah rekam jejak organisasinya yang panjang dan lintas sektor. Dari dunia mahasiswa lewat HMI Fakultas Hukum UNDIP Semarang (1993), lalu bergerak ke isu sosial sebagai Wakil Sekretaris Forum Kesehatan Masyarakat NTB (1999). Ia juga pernah memimpin Akarindo Mataram (2005) dan aktif di dunia usaha lewat HIPMI NTB serta IWAPI NTB—ruang yang akrab dengan isu UMKM dan ekonomi daerah.
Di politik praktis, jalurnya juga bukan satu warna. Evi pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PAN NTB (2006) dan kemudian Wakil Ketua DPD Partai Hanura NTB (2015–2017). Perjalanan lintas partai ini menunjukkan satu hal: orientasinya lebih ke kerja dan isu, bukan sekadar label.
Sebagai Senator DPD RI, fokus Evi konsisten di kepentingan daerah NTB, penguatan ekonomi lokal, serta representasi kelompok perempuan dan pelaku usaha. Gayanya cenderung tenang, organisatoris, dan tahan banting—lebih sering bekerja di ruang-ruang yang nggak selalu ramai kamera, tapi krusial buat hasil.
Evi Apita Maya bukan politisi yang cari sensasi. Ia lebih mirip pengelola jaringan—yang paham bahwa perubahan daerah lahir dari kolaborasi panjang antara hukum, ekonomi, dan organisasi sosial.
Di tengah politik yang sering serba cepat dan dangkal,
figur seperti Evi ngingetin:
daya tahan politik dibangun dari proses panjang, bukan momen viral.
Nggak selalu paling keras.
Tapi konsisten sampai periode kedua.
