Manusiasenayan.id – Di antara wajah-wajah parlemen yang didominasi politisi senior, Farah Puteri Nahlia datang membawa cerita generasi baru. Ia adalah Anggota DPR RI dengan Nomor Anggota 507 dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat IX. Lahir di Semarang, 2 Januari 1996, Farah termasuk salah satu legislator muda yang menempuh jalur politik lewat pendidikan, pengalaman internasional, dan kerja organisasi yang cukup panjang.
Pendidikan Farah bisa dibilang lintas budaya sejak dini. Ia mengenyam pendidikan dasar di Al Kamal, Kebon Jeruk, lalu melanjutkan ke Al Azhar Bumi Serpong Damai dan Sinarmas World Academy. Selepas itu, jalannya berlanjut ke Inggris. Farah menempuh studi di David Game College, London, sebelum meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dan Master of Science (M.Sc.) dari Royal Holloway, University of London. Lingkungan global ini membentuk cara pandangnya yang terbuka dan terbiasa melihat isu dari berbagai sudut.
Sebelum aktif penuh di parlemen, Farah sempat mencicipi dunia profesional dan birokrasi. Tahun 2018, ia menjabat Komisaris Utama Masa Studio, lalu menjalani internship di Kementerian Luar Negeri, tepatnya di Direktorat HAM dan Kemanusiaan, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral. Pengalaman ini mempertemukannya langsung dengan isu diplomasi, HAM, dan kerja sama internasional, yang kemudian relevan dengan perannya di DPR.
Masuk ke dunia politik elektoral, Farah resmi menjadi Anggota DPR RI periode 2019–2024, dan kembali melanjutkan kiprah di periode berikutnya. Di parlemen, ia terlibat dalam sejumlah Alat Kelengkapan Dewan, termasuk Komisi I, Badan Anggaran, serta Panitia Khusus. Peran ini menempatkannya pada isu-isu strategis, mulai dari politik luar negeri, pertahanan, hingga pengelolaan anggaran negara.
Aktivitas organisasi juga jadi bagian penting dari perjalanan Farah. Sejak SMP, ia sudah aktif di OSIS, lalu terlibat dalam kegiatan sosial seperti Habitat for Humanity Indonesia dan program relawan pengajaran bahasa Inggris. Di ranah politik, ia dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN dan kemudian menjabat sebagai Ketua DPD PAN Subang. Jalur ini menunjukkan konsistensinya membangun peran, dari level sosial hingga struktural partai.
Sejumlah penghargaan akademik dan sosial yang ia terima—mulai dari Best Student Award, English Award, hingga sertifikasi kegiatan kemanusiaan—menjadi catatan tersendiri tentang perjalanan personalnya. Tapi di Senayan, Farah lebih sering menempatkan diri sebagai pembelajar: politisi muda yang masih terus membaca arah zaman dan kebutuhan publik.
Di mata generasi muda, Farah Puteri Nahlia merepresentasikan wajah parlemen yang lebih dekat dengan realitas global, isu HAM, dan partisipasi anak muda. Ia membuktikan bahwa masuk ke DPR di usia muda bukan sekadar soal umur, tapi soal kesiapan, proses, dan keberanian mengambil peran. Senayan masih penuh tantangan, tapi lewat sosok seperti Farah, politik terasa sedikit lebih relevan untuk generasi sekarang.
