ManusiaSenayan.id – Kalau ngomongin wajah baru di Senayan yang fresh, punya vibe anak muda, tapi tetap rooted sama tradisi pesantren, nama Gus Abdullah alias Gus Abduh wajib masuk list. Politisi dari PKB ini baru aja duduk di kursi DPR RI periode 2024–2029, mewakili Dapil Jawa Tengah VI (Purworejo, Wonosobo, Magelang, Temanggung).
Yang bikin menarik, perjalanan hidupnya tuh kayak cerita crossover: lahir dari keluarga ulama NU, kuliah hukum syariah, sempat jadi komisaris BUMN, sampai akhirnya “naik kelas” jadi legislator di Komisi III DPR (yang ngurus hukum, HAM, dan keamanan). Kombinasi yang jarang banget, kan? Yuk kita bedah lebih dalam perjalanan Gus Abduh ini.
Dari Pesantren, Turun ke Politik
Gus Abduh lahir di Jakarta, 20 Desember 1986. Meski lahir di ibu kota, identitasnya sangat kental dengan dunia pesantren. Dia adalah cicit dari KH. Bisri Syansuri, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Rais Aam PBNU. Jadi sejak kecil, suasana rumahnya nggak jauh-jauh dari ngaji kitab, diskusi soal keislaman, dan tradisi pesantren yang disiplin.
Gelar “Gus” yang melekat di namanya bukan sekadar panggilan akrab, tapi simbol kepercayaan sosial di komunitas NU. Buat orang-orang pesantren, gelar ini semacam “verified badge” yang nunjukkin dia bagian dari keluarga kiai. Nah, modal sosial ini jelas jadi pondasi penting ketika dia melangkah ke dunia politik.
Kuliah di UNHASY, Pilih Jalur Hukum Syariah
Setelah masa mondok, Gus Abduh lanjut kuliah di Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng, Jombang. Jurusan yang dia ambil? Hukum Ekonomi Syariah. Pilihan ini nunjukkin dia serius banget pengen paham dunia hukum, tapi tetap berpegang pada perspektif Islam.
Jadi, di satu sisi dia belajar aturan main formal soal hukum dan ekonomi. Di sisi lain, dia tetap grounded sama nilai religius pesantren. Kombinasi ini bikin dia punya sudut pandang unik: ngerti aturan main modern tapi nggak kehilangan nilai moral.
Start dari Belakang Layar
Perjalanan karier politik Gus Abduh nggak langsung “instan naik panggung”. Awalnya, dia kerja di balik layar sebagai Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI (2014–2019). Di posisi ini, dia belajar banyak soal dunia politik praktis: dari bikin draft undang-undang, ikut rapat-rapat komisi, sampai ngeliat langsung gimana strategi fraksi dimainkan.
Pengalaman lima tahun ini jadi semacam “bootcamp” buatnya. Jadi pas dia terjun langsung sebagai anggota DPR, dia nggak kaget lagi sama sistem dan birokrasi Senayan.
Setelah itu, kariernya sempat geser ke dunia korporasi. Gus Abduh didapuk jadi Komisaris Utama PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (Inacom) periode 2020–2024. Di sini dia belajar soal manajemen, bisnis, dan jaringan profesional. Jadi nggak heran kalau sekarang dia lebih fleksibel bicara soal isu ekonomi maupun hukum.
Lolos ke Senayan 2024
Tahun 2024 jadi titik balik besar. Gus Abduh resmi terpilih sebagai anggota DPR RI 2024–2029 lewat PKB. Dari Dapil Jawa Tengah VI, dia berhasil dapat dukungan cukup signifikan dari konstituen.
Sekarang, dia ditempatkan di Komisi III. Buat yang belum tahu, komisi ini salah satu yang paling “serius” karena ngebidangi hukum, HAM, dan keamanan. Di sinilah Gus Abduh mulai nunjukin warna khasnya: memadukan nilai religius pesantren dengan isu hukum nasional.
Sikap dan Gagasan yang Menarik
Sejak masuk DPR, ada beberapa sikapnya yang sempat nyita perhatian media:
-
Rekrutmen Polisi Jalur Santri
Gus Abduh mengusulkan supaya rekrutmen Polri bisa ngambil jalur santri. Bahkan dia nyaranin calon polisi ikut pendidikan pesantren singkat biar punya integritas moral. Menurutnya, polisi nggak cukup cuma punya skill, tapi juga butuh akhlak. -
Ngulik Aset Negara
Dia cukup vokal soal penguasaan aset negara yang nggak jelas. Misalnya, kasus lahan negara yang dikuasai pihak tertentu atau ormas yang kelola parkiran RSUD. Buat Gus Abduh, hal kayak gini harus ditindak tegas. -
Keadilan Substantif
Di beberapa rapat, dia sering ingetin aparat hukum biar jangan terlalu kaku sama prosedur. Menurutnya, yang paling penting adalah rasa keadilan masyarakat.
Deket Sama Warga Dapil
Walaupun baru duduk di DPR, Gus Abduh nggak lupa sama dapilnya. Dia aktif reses, turun langsung atau lewat staf buat nyerap aspirasi masyarakat.
Masalah yang sering muncul? Ya khas daerah: kelangkaan pupuk buat petani, akses kesehatan yang masih terbatas, sampai jalan yang butuh diperbaiki. Buat Gus Abduh, suara warga ini jadi bahan penting buat dia bawa ke Senayan.
(Sumber: Suara Merdeka, PKB Jateng)
Religi Ketemu Politik
Hal paling menarik dari sosok Gus Abduh adalah caranya nyatuin dunia pesantren sama dunia politik. Kalau biasanya orang ngeliat politik itu kaku, penuh intrik, bahkan kadang dianggap “abu-abu”, dia coba kasih nuansa moral.
Identitasnya sebagai “Gus” bikin dia punya positioning spesial. Dia bukan cuma politisi biasa, tapi juga representasi santri NU yang bisa ngomong soal hukum, keadilan, dan moral publik. Bisa dibilang, dia lagi jadi “jembatan” antara nilai religius dan realitas politik yang keras.
PR Besar di Depan Mata
Tapi tentu aja, tantangannya gede. Publik bakal nungguin: apakah idealisme yang dia bawa dari pesantren bisa konsisten diwujudin di parlemen? Apakah dia bisa tetep jadi politisi yang berpihak ke rakyat kecil, bukan cuma terjebak di pusaran pragmatisme politik?
Kalau Gus Abduh bisa konsisten, bukan nggak mungkin dia bakal jadi salah satu tokoh muda NU yang diperhitungkan, nggak cuma di PKB tapi juga di level politik nasional.
