Manusiasenayan.id – Suasana Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (26/4), nggak cuma dipenuhi warga yang olahraga pagi. Sekelompok pelajar yang tergabung dalam komunitas Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir) ikut turun ke jalan sambil membawa pesan yang cukup serius: jangan biarkan Indonesia dipecah gara-gara provokasi dan informasi liar.

Di sekitar Monumen Selamat Datang, mereka membentangkan kain putih bertuliskan ajakan menjaga perdamaian Indonesia. Warga yang lewat pun diajak ikut tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan “Jaga Damai Indonesia”.

Aksi itu dimulai dengan jalan sehat mengelilingi area Bundaran HI. Setelah itu, para pelajar berhenti di beberapa titik untuk ngajak masyarakat ikut terlibat dalam petisi damai tersebut. Respons warga pun cukup positif. Banyak yang penasaran lalu ikut membubuhkan tanda tangan di kain putih yang mereka bentangkan.

Salah satu perwakilan pelajar, Nur Aira Adiasti, bilang kalau gerakan ini lahir dari keresahan anak muda terhadap makin gampangnya orang terprovokasi informasi yang belum jelas sumbernya. Menurutnya, hoaks dan narasi liar bisa jadi ancaman serius buat persatuan masyarakat.

“Kita menolak adanya provokator yang bisa memecah belah persatuan Indonesia,” ujar Aira di lokasi kegiatan.

Nggak cuma soal isu persatuan, para pelajar ini juga menyoroti fenomena tawuran pelajar yang masih sering terjadi, terutama di Jakarta. Buat mereka, masalah ini nggak bisa terus dianggap biasa.

Aira mengatakan komunitasnya mencoba bergerak lewat cara yang dekat dengan anak muda. Mereka membuat konten edukasi di media sosial tentang bahaya tawuran, dampaknya, sampai penyebab yang sering memicu konflik antarpelajar.

Menurutnya, edukasi digital penting dilakukan karena banyak remaja sekarang lebih dekat dengan media sosial dibanding ruang diskusi formal. Selain bikin konten, mereka juga mengaku melakukan survei lapangan untuk memahami akar persoalan tawuran yang terus berulang.

Menariknya, komunitas ini juga menyinggung polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan ramai dibahas publik. Aira menilai polemik yang muncul di lapangan sering dimanfaatkan buzzer dan pihak tertentu untuk memancing keributan di media sosial.

Ia menyebut persoalan teknis dalam pelaksanaan program seharusnya diselesaikan dengan evaluasi, bukan malah dijadikan bahan saling serang yang bikin suasana makin panas.

Sebagai pelajar yang ikut menerima manfaat program tersebut, mereka merasa punya tanggung jawab untuk ikut menjaga agar program pemerintah tetap berjalan baik dan nggak jadi bahan provokasi yang merugikan masyarakat.