ManusiaSenayan.id – Lahir di Tolitoli, Sulawesi Tengah, 26 Oktober 1989, Ahmad Irawan merantau ke Malang untuk kuliah hukum di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus, dia bukan tipe mahasiswa yang cuma kuliah–pulang–tidur. Irawan terjun jadi Ketua BEM Fakultas Hukum dan memimpin HMI . Setelah itu, lanjut S2 Hukum di UGM. Basic hukumnya kuat, plus terbiasa berdebat dan ngulik isu sosial.
Sebelum nyemplung ke DPR, Irawan udah punya modal pengalaman: advokat dengan kantornya sendiri (Ahmad Irawan & Associates), pebisnis (Direktur Utama PT Sentosa Prima Coal), sampai pengurus di organisasi besar kayak HIPMI dan AMPG. Jadi, jalannya ke politik nggak tiba-tiba, tapi hasil dari jaringan panjang.
Menang Setelah Pernah Kalah
Pemilu 2019 jadi debutnya sebagai caleg Golkar, tapi gagal lolos. Banyak orang mungkin udah angkat tangan. Tapi Irawan balik lagi di 2024, lebih siap, lebih matang, dan hasilnya: 60.471 suara dari Dapil Malang Raya bikin dia resmi jadi Anggota DPR RI periode 2024–2029. Usia 34 tahun, under 40, dan jadi bagian dari politisi muda yang bisa bawa “warna baru” ke Senayan.
Kompleksitas Kerja di Senayan
Banyak orang kira kerja DPR itu gampang: datang, rapat, senyum ke media. Padahal, di balik senyum Irawan, ada segudang urusan ribet. Dia duduk di Komisi II dan Badan Legislasi (Baleg)—dua ruang yang jadi dapurnya regulasi negara.
- Komisi II DPR RI
Fokus ke pemerintahan dalam negeri, aparatur negara, pemilu, dan otonomi daerah. Di sini, Irawan harus ikut ngawasin KPU, Bawaslu, sampai masalah administrasi kependudukan. Bayangin ribetnya: data pemilih sering kacau, aturan pilkada berubah-ubah, sampai tarik ulur soal desentralisasi daerah. Semua itu mesti dibahas detail, angka demi angka. - Badan Legislasi (Baleg)
Ini dapurnya undang-undang. Setiap RUU yang masuk harus disaring, dikaji, diharmonisasi. Kerjaannya panjang: mulai dari dengar masukan pakar, ngebahas pasal demi pasal, sampai ngadepin lobi-lobi politik antarfraksi.
Di sinilah Irawan nunjukin sisi seriusnya. Misalnya, dia menolak usulan ASN pensiun umur 70 tahun karena bisa menghambat regenerasi. Dia juga sorot fenomena kotak kosong menang pilkada yang absurd tapi nyata terjadi di beberapa daerah. Bahkan, Irawan ikut dorong revisi UU Paket Politik biar pilkada nggak jadi ajang bakar duit.
Antara Senyum dan Realita Politik
Senyum Ahmad Irawan di kamera sering bikin orang mikir kerja DPR itu ringan. Padahal, realitanya: rapat bisa sampai larut malam, agenda tumpang tindih, dan tekanan datang dari banyak arah—partai, pemerintah, konstituen. Semua itu harus ditanggung sambil tetap tampil segar di publik.
Senyum itu justru simbol kalau dia tahan banting. Dari gagal di 2019 sampai berhasil di 2024, dari aktivis kampus sampai politisi muda di Senayan. Itu bukan senyum basa-basi, tapi refleksi perjalanan yang penuh jatuh-bangun.
Pesan untuk Gen Z
Kehidupan di Senayan nunjukin ke kita bahwa politik itu nggak sesederhana yang kelihatan di layar. Ada kompleksitas, ada ribetnya birokrasi, ada tarik-menarik kepentingan. Tapi kisah Ahmad Irawan kasih bukti: anak muda pun bisa masuk dan berperan, asal punya mental kuat dan idealisme jelas.
Buat Gen Z, pelajaran utamanya simpel: jangan takut sama politik. Memang ribet, memang kadang bikin pusing, tapi justru di situlah kita bisa bikin perubahan nyata.
