Manusiasenayan.id – Hidup emang kadang suka ngajak sparring tanpa aba-aba. Tapi di balik kerasnya realita, selalu ada jalan buat comeback. Salah satunya lewat Program Rehabilitasi Sosial yang digas pemerintah buat bantu kelompok rentan bangkit lagi—bukan cuma fisik, tapi juga mental dan sosial.

Program ini nggak main-main. Lewat pendekatan terpadu, pemerintah pengin kasih “second chance” buat mereka yang lagi di titik terendah, supaya bisa balik berdiri dan punya kemandirian ekonomi. Nah, salah satu cerita yang relate banget datang dari Kusna (40), warga Jawa Barat.

Kusna sempat ngerasain fase hidup yang berat banget. Ditinggal pasangan, kehilangan orang tua, sampai akhirnya beban hidup itu numpuk sendirian. Nggak kebayang kan, gimana rasanya? Menurut Juhara Adi, kondisi Kusna itu kompleks banget sampai bikin kondisi kesehatan mentalnya ikut drop.

“Bebannya nggak bisa dia pecahkan sendiri, dipendam terus sampai akhirnya meluap,” jelas Juhara.

Tapi di titik itu, Kusna nggak milih nyerah. Dia justru mutusin buat pelan-pelan bangkit. Mulai dari hal sederhana—belajar bersosialisasi lagi sama keluarga dan lingkungan sekitar. Nggak instan, tapi konsisten.

Biar bisa hidup mandiri, Kusna akhirnya fokus di dunia jahit-menjahit. Skill ini jadi jalan buat dia nyari penghasilan sekaligus terapi buat dirinya sendiri. Dan di momen penting itu, Kementerian Sosial (Kemensos) lewat Sentra Abiyoso Cimahi hadir kasih support nyata—bantuan mesin obras buat menunjang usahanya.

“Senang banget, bisa kerja lagi. Alhamdulillah sekarang bisa lanjut cari rezeki dan ngerasain hidup normal lagi,” kata Kusna dengan penuh rasa syukur.

Dari situ, pelan tapi pasti, roda hidup Kusna mulai muter lagi. Dengan skill menjahit dan alat produksi yang memadai, sekarang dia bisa dapet penghasilan sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per bulan. Mungkin nggak besar buat sebagian orang, tapi buat Kusna, ini adalah bukti kalau dia berhasil bangkit.

Bahkan buat dia, menjahit bukan sekadar kerjaan. Ini jadi bentuk terapi yang bantu dia pulih secara mental, sekaligus bukti kalau dirinya masih punya value dan bisa berdiri sendiri.

“Terima kasih Kemensos, bantuan ini jadi penyemangat buat terus lanjut hidup dan cari rezeki,” tutupnya.

Cerita Kusna ini jadi reminder simpel: selama masih mau berjuang, selalu ada jalan buat balik naik. Kadang yang kita butuhin cuma kesempatan—dan sedikit dorongan buat mulai lagi.