ManusiaSenayan.id Guys, catet tanggalnya: 24 September bakal rameee banget! Ribuan petani siap “take over” depan Gedung DPR bareng buruh, mahasiswa, dan gerakan masyarakat sipil lain. Bukan buat seru-seruan, tapi buat peringatin Hari Tani Nasional dengan aksi yang super serius.

Menurut Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, “Melalui aksi ini, para petani akan menyampaikan sembilan tuntutan perbaikan atas 24 masalah struktural (krisis) agraria akibat 65 tahun UUPA 1960 dan agenda reforma agraria yang tidak dijalankan lintas rezim pemerintahan.”

Bayangin aja, data KPA nunjukin 1% elit di Indonesia nguasain 58% tanah dan sumber produksi, sementara 99% sisanya harus rebutan. Gimana nggak makin meledak tuh konflik? Dewi bilang, “Konflik agraria dengan luas mencapai 7,4 juta hektar. Dampaknya, 1,8 juta keluarga kehilangan tanah, kehilangan mata pencaharian dan masa depan.”

Aksi ini nggak cuma di Jakarta dengan sekitar 12 ribu petani, tapi juga serentak di berbagai daerah: dari Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Semarang, Blitar, Jember, Makassar, sampai Kupang. Fix, vibes-nya nasional banget.

Masalahnya, proyek kayak PSN, food estate, KEK, sampai militerisasi pangan disebut bikin tanah petani makin terancam. “PSN, food estate, Badan Otorita Kawasan Strategis Pariwisata Nasional atau Kawasan Ekonomi Khusus, bank tanah dan militerisasi pangan terus meluas ke kampung-kampung dan desa, merampas tanah petani dan wilayah adat,” kata Dewi.

Di sisi lain, pemerintah versi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bilang sektor pertanian justru cetak prestasi. “Produksi khususnya beras hingga Oktober mencapai 31 juta ton. Estimasi kita 34 juta ton di 2025stok beras Indonesia 4,2 juta ton, menjadi yang tertinggi sejak Indonesia merdeka.”

Nah, 24 September ini bakal jadi clash narasi: pemerintah bilang sukses, petani bilang krisis. Mana yang lebih real? Tunggu update aksinya!