ManusiaSenayan.id Buat warga Brebes–Tegal, nama Mbak Shintya makin sering nongol di obrolan politik. Perempuan kelahiran Brebes, 3 April 1995, ini sekarang duduk sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 dari PDI Perjuangan, mewakili Dapil Jawa Tengah IX (Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal). Di umur baru 29 tahun saat dilantik, dia jadi salah satu wajah termuda dari Pantura yang tembus ke Senayan.

Kalau ditarik ke belakang, journey Shintya cukup “rapi”. Dari SD sampai SMA dia sekolah di Brebes, lalu lanjut S1 Hubungan Internasional – Universitas Bina Nusantara dan S2 Magister Administrasi Bisnis – Universitas Diponegoro. Di beberapa data resmi, dia juga dikenal sebagai pengusaha di usaha energi dan bisnis lokal. Jadi, sebelum jadi wakil rakyat, dia sudah cukup kenyang lihat realita lapangan: dunia usaha, birokrasi, dan denyut ekonomi daerah.

Momentum besarnya datang di Pemilu 2024. Maju sebagai caleg DPR RI dari PDI Perjuangan di Dapil Jateng IX, Shintya mengantongi 91.305 suara, dengan kantong suara terbesar dari Brebes. Hasil itu mengantarkannya resmi dilantik pada 1 Oktober 2024 sebagai anggota DPR RI. Dari kacamata anak muda Pantura, ini semacam bukti nyata kalau “orang seusia kita” juga bisa sampai ke kursi pembuat kebijakan, bukan cuma jadi penonton di timeline.

Masuk DPR, Shintya ditempatkan di Komisi II yang ngurusin pemerintahan dalam negeri, aparatur negara, sampai kepemiluan. Di sini kelihatan banget fokus kerjanya: salah satunya soal nasib tenaga honorer dan non-ASN. Dalam berbagai rapat dengan Kementerian PANRB dan BKN, dia cukup ngegas minta pemerintah serius menuntaskan penataan tenaga non-ASN dengan target maksimal Desember 2024, biar para honorer punya kepastian status dan masa depan kerja yang jelas, bukan terus-terusan “digantung”.

Yang bikin isu ini kerasa banget: dia sering nyebut langsung honorer di Brebes dan kawasan Pantura lain yang sudah lama mengabdi tapi masih bingung status. Jadi ketika dia ngomong di rapat, bukan sekadar baca angka, tapi bawa cerita guru, tenaga administrasi, dan pegawai lapangan yang dia temui di dapil. Vibes-nya lebih ke “ini orang memang tahu kondisi di bawah”, bukan cuma bacain briefing.

Selain itu, Shintya juga aktif di ranah edukasi politik. Bareng KPU Brebes, dia ikut turun di program pendidikan pemilih berkelanjutan: ngingetin warga biar nggak golput, nggak asal pilih “kucing dalam karung”, dan nggak gampang ke-distract politik uang. Di forum lain bersama Bawaslu, dia dorong pengawasan pemilu yang melibatkan warga, bukan cuma mengandalkan lembaga resmi. Intinya, dia pengin pemilih makin melek, bukan cuma datang ke TPS terus lupa lagi soal politik lima tahun ke depan.

Di luar ruang rapat, Shintya sering ngomong soal pentingnya keterwakilan anak muda dan perempuan di parlemen. Ia bilang politik harus kerasa manfaatnya di dapil: dari aspirasi yang benar-benar didengar, program yang dikawal, sampai kebijakan pusat yang nggak lupa sama kebutuhan spesifik Pantura. Sebagai perempuan muda dari Brebes yang dapat mandat suara puluhan ribu orang, dia berusaha nge-bridge dunia “Senayan yang formal” dengan realita jalanan di Brebes–Tegal.

Pada akhirnya, Shintya Sandra Kusuma bisa dibilang representasi wajah muda Pantura di Senayan: tumbuh dari daerah, paham dunia usaha dan politik lokal, lalu diberi kesempatan main di level nasional. Tinggal gimana dia konsisten jaga ritme kerja, biar label “wajah muda” nggak sekadar branding, tapi benar-benar kebukti lewat dampak yang dirasain warga dapilnya.