ManusiaSenayan.id – Banyak yang mikir gaji DPR itu mereka tentuin sendiri. Kayak lagi bikin aturan “main monopoli” di rumah: bebas nambah duit kapan aja. Padahal, nggak gitu juga ceritanya. Ada mekanisme resmi yang lumayan ribet, dan ujung-ujungnya tetap ada “bos besar” yang ketok palu.

Jadi gini: sejak lama udah ada dasar hukumnya. Tepatnya UU Nomor 12 Tahun 1980, yang bilang kalau pimpinan dan anggota lembaga tinggi negara (termasuk DPR) berhak dapat gaji pokok tiap bulan. Nah, detailnya nggak langsung ditulis di UU, tapi diturunin lagi lewat Peraturan Pemerintah (PP).

Terus, siapa yang bisa bikin PP? Jawabannya ada di UUD 1945 Pasal 5 ayat (1) dan (2). Intinya, presiden punya hak buat bikin UU bareng DPR, sekaligus punya wewenang buat bikin PP sebagai aturan turunannya. Artinya, kalau soal gaji DPR yang diatur lewat PP, ya presiden lah yang resmi nentuin.

Contohnya, ada PP Nomor 75 Tahun 2000 yang ngatur gaji pokok DPR. Jadi, bukan cuma DPR aja yang masuk hitungan, tapi juga pejabat tinggi negara lainnya. Bahkan, di situ juga ada aturan soal uang kehormatan—semacam bonus “karena lo pejabat, bro”.

Tapi tunggu dulu, bukan berarti presiden langsung duduk di meja, ngitungin gaji satu-satu pake kalkulator. Ada pihak lain yang ikut nimbrung: Kementerian Keuangan dan Sekretariat Jenderal DPR. Dua lembaga ini yang ngerjain teknisnya, kayak ngebutuhin berapa tunjangan, fasilitas apa aja, sampai hal-hal detail yang bikin angka gaji DPR keliatan “wah” di mata rakyat.

Jadi, simpelnya gini: DPR boleh aja ngomongin, tapi keputusan resmi soal gaji mereka tetap ada di tangan presiden lewat PP, plus diurus teknisnya sama Kemenkeu dan Setjen DPR. Jadi kalau ada yang bilang “DPR seenaknya naikin gaji sendiri”, ya nggak sepenuhnya bener. Walau… kita semua tahu, fasilitas mereka tetap bikin rakyat geleng-geleng kepala.