ManusiaSenayan.id – Gula rafinasi di Indonesia emang manis, tapi drama di baliknya kadang lebih “nggak enak” dari minum kopi tanpa gula. Nah, anggota Komisi VI DPR RI, Nasril Bahar, baru aja bikin statement yang bikin 11 perusahaan gula rafinasi harus mikir:
“Kita sangat berharap 11 perusahaan gula rafinasi, ke depan mereka tidak berbasiskan impor. Kita berharap berbasiskan perkebunan yang mereka bangun karena itu perintah UU.”
Bahasa kasarnya: ayo dong, jangan jadi “anak kos impor” terus. Soalnya menurut Nasril, mereka ini udah belasan tahun cuan dari bisnis gula rafinasi.
“Artinya sudah belasan tahun mereka menikmati keuntungan. Jadi, kalau dari mana modalnya untuk membangun kebun tebu, saya rasa dari akumulasi keuntungan yang mereka dapatkan selama ini. Itu sudah lebih cukup untuk membangun atau membuat kebun tebu.”
Masalah lahan? Santuy. Jawa dan Sumatera emang udah kayak kos-kosan full booked, tapi di Indonesia Timur lahan masih luas banget. Nasril bilang:
“Kalau mencari kebun di wilayah Jawa dan Sumatera, gak akan ketemu lahan untuk perkebunan, tetapi coba cari di daerah Indonesia Timur, apakah di Sulawesi, NTB, Papua.”
Kalau ini jalan, kata Nasril, otomatis bakal nyambung sama program Presiden Prabowo soal swasembada pangan.
“(Membangun kebun tebu di Indonesia Timur) bisa mewujudkan Asta Cita ke dua dari pada visi misi Presiden Prabowo Subianto, yang mana membuat terpenuhi swasembada pangan khususnya gula, itu yang kita inginkan.”
Jadi, PR buat perusahaan gula sekarang: mau tetap nyaman impor kayak anak kos yang nggak pernah masak, atau upgrade level jadi juragan kebun tebu di Timur? Kalau pilih opsi kedua, bisa jadi drama harga gula di pasar nggak lagi bikin emak-emak manyun.
