ManusiaSenayan.id – Kalau ada sektor yang dari dulu dielu-elukan tapi tetap aja penuh drama, jawabannya pasti: pertanian.

Bayangin, negara dengan 281 juta jiwa dan segunung lahan, tapi tiap tahun masih khawatir soal makan. Dari global warming sampai global warning, semuanya ikut nimbrung bikin krisis pangan makin pedes. Belum lagi perang sana-sini, pupuk langka, rantai pasok kayak jalur neraka: panjang, berliku, dan bikin harga naik turunnya lebih heboh dari saham kripto.

Masuklah ke panggung Komisi IV DPR RI, dengan Titiek Soeharto buka suara dalam rapat bareng Kementan. Intinya? Petani makin gak sejahtera, generasi mudanya udah banyak yang pindah profesi ke konten kreator, dan hasil pertanian nyampe ke konsumen masih lewat jalur ziarah.

“Menyebabkan harga di tingkat petani rendah namun mahal di konsumen,” sindir Titiek dengan gaya santai tapi nyelekit.

Makanya, katanya, pembangunan sektor pertanian kudu serius dong. Gak cuma jagung dan beras yang dibelain. Hortikultura, peternakan, perkebunan – semua butuh panggung! Jangan sampai sapi dan cabe cuma muncul pas inflasi doang.

Titiek juga ngasih resep lima bumbu penyedap pembangunan pertanian:

  1. “Kemandirian pangan,” bukan kemandirian wacana.
  2. “Modernisasi pertanian,” bukan modernisasi PowerPoint.
  3. “Kemitraan usaha tani dan akses pasar,” bukan kemitraan basa-basi.
  4. “Efisiensi tata kelola lahan & teknologi,” bukan efisiensi anggaran doang.
  5. “Upgrade SDM pertanian,” biar penyuluh gak kalah sama TikToker.

Soal duit? Tahun 2026 Kementan dapat jatah Rp 13,7 triliun. Tapi kata Titiek, jangan asal habisin duit, harus berbasis outcome, bukan output ala-ala seminar motivasi.

Dan yang paling penting:
“(Perlu) Integrasi program antar direktorat dan antar sektor untuk menghindari duplikasi, hingga dukungan pengawasan dan pelaporan berbasis data real-time,” tutupnya.

Karena kalau pangan goyah, rakyat susah. Dan kalau petani tak sejahtera, nasi pun bisa berubah jadi utang.