ManusiaSenayan.id – Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya resmi masuk daftar “gagal berlayar 2025”. Insiden karamnya kapal di Selat Bali itu bikin geger, bukan cuma karena dramanya mirip film, tapi juga karena 27 penumpang masih belum ketemu. Gak ketemu, gengs. Bukan hilang sinyal, tapi literally hilang di laut.

Masuklah Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, dengan mode serius banget menyuarakan:

“Satu nyawa sangatlah berharga, 27 korban belum ditemukan dalam insiden ini menjadi bukti bahwa perlindungan terhadap penumpang kapal masih lemah. Investigasi menyeluruh harus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian ini.”
Ini bukan angka di kasir Indomaret, tapi manusia beneran.

“Jika terjadi kebocoran mesin, perlu ditelusuri apakah ada kelalaian dalam pemeriksaan kelayakan sebelum keberangkatan,”
tanya Huda, setengah curiga, setengah emosi. Ia mendesak Kemenhub segera buka-bukaan soal izin berlayar yang katanya wajib banget tapi kadang suka tembus juga.

Masih lanjut nih, Huda juga nanya soal peralatan penyelamatan:

“Kita perlu memastikan bahwa prosedur tanggap darurat berjalan sebagaimana mestinya, dan tidak ada yang diabaikan.”

Katanya sih, udah saatnya kita berhenti nganggep kecelakaan laut sebagai “musibah tahunan” kayak jadwal konser. Indonesia ini negara maritim, bukan negara daratan yang nyasar punya pelabuhan. Jadi, keselamatan laut tuh bukan bonus, tapi keharusan.

Meski nada suara Huda udah kayak dosen abis liat jawaban open book salah semua, dia tetap kasih respek buat Basarnas, TNI AL, Polri, sampai nelayan yang udah turun tangan nyari korban.

“Kami berharap ini menjadi insiden terakhir yang merenggut nyawa pengguna transportasi laut. Terima kasih kepada semua pihak yang terus berjuang di lapangan,” ujarnya.

Catatan penutup:
Semoga ini jadi insiden terakhir, bukan season selanjutnya. Karena rakyat capek nonton tragedi berulang, dan keluarga korban gak butuh pidato—mereka butuh keadilan dan perubahan.