ManusiaSenayan.id – Di tengah suasana formal dan seragamnya sidang paripurna DPR, ada satu pemandangan yang selalu mencuri perhatian: songkok recca yang menghiasi kepala Dr. H. Syamsu Rizal M.I., S.Sos., M.Si., anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) daerah pemilihan Sulawesi Selatan I. Bagi politisi yang akrab disapa Daeng Ical ini, songkok recca bukan sekadar aksesori, melainkan simbol budaya, identitas, dan pesan moral yang dibawa hingga ke meja parlemen.
Filosofi Songkok Recca
Songkok recca adalah penutup kepala khas Bugis-Makassar yang terbuat dari anyaman daun lontar. Bentuk dan motifnya sarat makna—mewakili keteguhan, kesabaran, dan kearifan lokal. Di Sulawesi Selatan, songkok ini juga menjadi simbol kehormatan dan kebijaksanaan.
Setiap helai anyaman punya cerita, ini bukan sekadar pakaian, tapi bagian dari jatidiri dan pengingat bahwa kita datang dari budaya yang menjunjung harga diri dan tanggung jawab.
Jejak Panjang Pengabdian
Lahir di Selayar pada 30 Juni 1973, Daeng Ical menempuh pendidikan dari SD Inpres Benteng I Selayar hingga meraih gelar doktor di bidang kebijakan publik dari Universitas Negeri Makassar. Sebelum duduk di Senayan, ia pernah menjadi Wakil Wali Kota Makassar (2014–2019) dan aktif memimpin berbagai organisasi, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar.
Rekam jejaknya di dunia organisasi sangat panjang: dari Ketua Umum Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNHAS pada era 90-an, Ketua Umum PMI Makassar, hingga Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulsel.
Penghargaan & Kiprah Sosial
Ragam penghargaan ia terima, mulai dari Ikon Pemuda Berpengaruh Kota Makassar (2010) hingga Penghargaan Pemberdayaan Masyarakat Tangguh Bencana (2017). Kiprahnya di bidang sosial, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat membuatnya dikenal sebagai figur yang dekat dengan rakyat.
Songkok Recca di Paripurna
Setiap kali melangkah ke ruang sidang DPR, songkok recca di kepalanya menjadi penegas pesan: bahwa identitas budaya tidak boleh luntur meski berada di kancah politik nasional. Bagi Daeng Ical, mengenakan songkok ini adalah bentuk penghormatan pada leluhur dan cara membawa spirit Bugis-Makassar dalam setiap keputusan yang ia ambil di Senayan.
