ManusiaSenayan.id — Ada yang aneh nih di Batam. Komisi XII DPR RI nemuin dugaan ribuan kontainer limbah elektronik (e-waste) nyelonong masuk lewat Pelabuhan Batu Ampar. Katanya sih, itu ulah PT Esun International Utama Indonesia yang udah ngimpor sejak awal 2025.
Wakil Ketua Komisi XII, Dony Maryadi, langsung pasang mode serius. “PT Esun ini melakukan impor limbah elektronik, dan hingga kini belum memiliki izin tetap terkait impor limbah tersebut. Berdasarkan data, hampir seribu kontainer lebih sudah masuk selama sembilan bulan terakhir,” ujarnya.
Masalahnya, si perusahaan berdalih, “Kan Batam free trade zone, jadi bebas keluar-masuk barang, dong?” Tapi Dony langsung ngejawab dengan gaya “bapak-bapak tapi nyentil”: “Mereka mengatakan bahwa karena Batam adalah daerah free trade, barang boleh masuk dan keluar kembali. Tapi ini perlu dasar hukum yang kuat.” Alias: jangan ngeles pake istilah keren kalau ujungnya nyampah juga, bro.
Dony juga minta kasus ini dibawa ke Panja Lingkungan Hidup buat diulik lebih dalam. Kalau terbukti ada pelanggaran, siap-siap deh kena sanksi hukum. “Kalau memang ditemukan adanya unsur pidana atau pelanggaran, ya harus diproses secara hukum,” tegasnya.
Yang bikin makin miris, pengawasan di pelabuhan masih bocor banget. Dari 590 ribu kontainer yang masuk semester pertama 2025, barang berisiko tinggi kayak limbah elektronik bisa aja nyelip tanpa ketahuan.
Dony nutup dengan pesan yang deep tapi ngena: “Batam harus tetap jadi kawasan industri yang berdaya saing tinggi, tapi juga berwawasan lingkungan dan tidak menjadi tempat pembuangan limbah dunia.” Intinya, jangan sampai Batam jadi “tong sampah global” cuma gara-gara pengawasan longgar, geng.
