ManusiaSenayan.id – Bayangin lo lagi lewat kawasan industri di Batam, lihat pabrik berderet, pelabuhan rame, jalanan penuh truk kontainer. Dari suasana kayak gitu, lo mungkin nggak langsung kepikiran soal gedung DPR di Senayan. Tapi dari kota yang hiruk pikuk itu, lahir satu nama yang sekarang duduk di kursi parlemen: Randi Zulmariadi. Anak 90-an asal Batam, sekarang jadi Anggota DPR RI dari Partai NasDem, mewakili Dapil Kepulauan Riau, dan kerja di Komisi VI yang ngurusin perdagangan, UMKM, BUMN, dan kawasan industri.
Randi bukan tipe politisi yang muncul tiba-tiba pas pemilu. Sejak SMA di Batam, dia sudah biasa pegang peran sebagai “orang yang ngurusin banyak hal”. Waktu temen-temennya sibuk mikirin tugas atau UKK, dia justru dapat amanah jadi Ketua OSIS. Dari situ dia belajar hal yang kelihatannya sepele, tapi penting banget: dengerin orang dulu sebelum ngomong panjang, negosiasi sama guru, dan cari jalan tengah di tengah drama anak sekolah.
Setelah lulus, hidupnya nggak langsung lompat ke politik. Dia milih jalan yang cukup “biasa”, tapi konsisten: kuliah S1 Manajemen, lalu lanjut S2 Manajemen. Kuliah dia jalanin sambil kerja dan tetap aktif di organisasi. Buat banyak anak muda yang sering keok duluan tiap denger kata “skripsi” atau “tesis”, perjalanan Randi ini nunjukin satu pola: sibuk boleh, capek wajar, tapi pendidikan tetap diselesaikan pelan-pelan.
Di luar kampus, jalur organisasinya juga naik level. Randi terjun ke dunia organisasi kepemudaan, jadi Ketua KNPI Batam, dan juga Wakil Ketua GP Ansor Kepulauan Riau. Di sini dia mulai ketemu berbagai macam karakter: aktivis, pegiat komunitas, pengurus masjid, pengurus olahraga, anak-anak yang rajin rapat, sampai yang lebih suka nongkrong tapi punya banyak unek-unek soal kota dan negara. Dari ruang-ruang pertemuan dan obrolan panjang itu, pelan-pelan kebentuk image dia sebagai “anak organisasi” yang biasa kerja di lapangan, bukan sekadar politisi poster.
Titik baliknya datang waktu Pemilu 2024. Randi maju sebagai caleg DPR RI dari Dapil Kepri lewat Partai NasDem. Hasilnya, dia beneran tembus ke Senayan untuk periode 2024–2029. Penempatan dia di Komisi VI terasa nyambung banget sama wajah Kepri. Ini daerah pelabuhan, industri, dan pariwisata; daerah yang hidup dari pergerakan barang, orang, dan jasa. Jadi ketika ada anak muda Batam yang duduk di komisi yang ngurusin UMKM, perdagangan, dan BUMN, harapannya otomatis naik: mungkin kali ini suara Kepri, termasuk suara anak mudanya, bisa lebih kedengaran di pusat.
Cara kerja Randi di dapil juga mulai kelihatan bentuknya. Dia turun ke Bintan dan Tanjungpinang, ikut duduk bareng warga, tokoh masyarakat, sampai anggota DPRD. Obrolannya nggak muter di jargon, tapi nyentuh hal yang orang rasain tiap hari. Ada petani yang cerita soal lahan yang butuh traktor dan alat produksi supaya nggak mangkrak. Ada nelayan dan pelaku UMKM yang bingung soal akses modal dan pasar. Ada juga warga yang ngeluh soal pelabuhan yang fasilitasnya belum nyaman, padahal itu gerbang wisatawan masuk.
Di forum-forum kayak gitu, Randi nggak datang sekadar foto, salam-salaman, lalu hilang. Dia jelasin bahwa di Komisi VI, dia punya ruang untuk dorong program dan anggaran yang nyambung ke masalah itu. Memang, nggak ada yang bisa beres dalam semalam. Tapi setidaknya jalur komunikasinya kebuka, dan warga punya “alamat politik” yang jelas buat nagih janji. Dari sana, peran dia kebaca sebagai semacam “kurir kebijakan” antara Kepri dan Senayan.
Di luar urusan rapat dan reses, Randi juga berusaha hadir lewat jalur sosial-keagamaan. Di momen Idul Adha, misalnya, dia ikut menyalurkan hewan kurban untuk ribuan warga di Kepri. Narasi yang dia bawa sederhana saja: soal berbagi, soal ingat bahwa masih banyak orang yang mungkin cuma bisa makan daging setahun sekali, dan soal pentingnya wakil rakyat muncul bukan cuma pas kampanye. Nggak glamor, tapi gesture kayak gini bikin kehadirannya kerasa lebih dekat.
Semua perjalanan itu bikin label “Wakil Anak Muda Kepri di Senayan” pelan-pelan nempel di namanya. Bukan cuma karena usia yang masih muda, tapi karena jalan yang dia lewati mirip jalur banyak anak muda lain: pernah jadi anak OSIS, pernah merasakan ribetnya organisasi, pernah juggling kuliah sama kerja, dan sekarang kebetulan duduk di ruang rapat yang dulu cuma bisa dia lihat di berita.
Tentu saja, cerita ini belum tamat. Randi masih di periode pertama. Rekam jejak legislasi, pengawasan, dan seberapa jauh dia bisa nge-push kebijakan yang pro anak muda dan pro Kepri masih harus dibuktikan. Pertanyaannya sekarang bukan cuma “siapa Randi?”, tapi “apa yang bakal dia hasilkan?” dari posisi yang dia pegang? Apakah UMKM muda di Kepri bakal lebih gampang dapat akses? Apakah pelabuhan, pariwisata, dan lapangan kerja bakal kerasa manfaatnya?
Di sisi lain, punya wakil muda di Senayan juga jadi ujian buat anak muda Kepri sendiri. Mau sekadar nonton dari jauh atau ikut aktif ngasih masukan, kritik, dan dukungan ketika perlu? Karena pada akhirnya, sebutan “wakil anak muda” baru sah kalau generasi mudanya sendiri berani ngomong, berani nanya, dan berani nagih kerja nyata.
