ManusiaSenayan.id Guys, drama data BPJS tuh ternyata masih jadi salah satu “season” terlama di Indonesia. Makanya, pas Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana turun ke Pekanbaru bareng Panja JKN, beliau langsung ngingetin semua pihak: kalau mau pindah sistem data, plis jangan ngebut tanpa cek kanan-kiri dulu.

Bu Sri bilang, tiap ada perubahan kebijakan soal data, publik pasti langsung rame kayak war tiket konser. Kenapa? Ya karena sering muncul kejadian plot twist kayak yang beliau ceritakan:

“Sering sekali ada pemberitaan, satu kebijakan berganti. Misalnya tentang dari data ke Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Itu tiba-tiba ada data kepesertaan yang terganggu, ada data yang hilang, ada data yang macam-macam, sehingga BPJS itu tidak bisa digunakan pada saat dibutuhkan.”

Dan iya, kehilangan mantan aja udah berat, apalagi kehilangan data BPJS. Pain-nya beda level.

Beliau lanjut ngegas halus bahwa DTSEN bakal jadi tulang punggung data nasional, jadi proses transisinya harus serapi feed Instagram aesthetic. Nggak boleh bikin orang panik gara-gara data tiba-tiba hilang.

Nggak sampai di situ, Bu Sri juga ngulik soal Universal Health Coverage (UHC) yang katanya udah tembus lebih dari 98% di banyak daerah. Tapi kenyataannya? Masih ada peserta berstatus tidak aktif padahal sudah UHC. Lah gimana ceritanya?

Beliau bilang:

“Dengan Universal Health Coverage (UHC) itu ternyata masih banyak peserta yang tidak aktif, dari peserta tidak aktif itu ternyata walaupun Universal Health Coverage (UHC), tidak bisa menggunakan BPJS untuk berobat.”

Dan penegasan terakhirnya bener-bener no filter:

“Universal Health Coverage (UHC) itu seluruh masyarakat karena kepesertaan sudah lebih dari 98 persen bisa mencapai pengobatan, itu Universal Health Coverage (UHC).”

Intinya: Bu Sri cuma mau memastikan UHC bukan sekadar status, tapi hak akses berobat tanpa drama, tanpa “data hilang challenge,” tanpa “BPJS error arc.”