Manusiasenayan.id — Ini bukan kabar receh. BPOM resmi naik kasta di panggung kesehatan dunia. Lembaga pengawas obat dan makanan Indonesia itu sekarang menyandang status WHO Listed Authority (WLA) dari World Health Organization (WHO). Pengumuman resminya nongol di website WHO per 21 Desember 2025. Artinya? Sistem pengawasan obat dan vaksin Indonesia diakui setara kelas global.

Biar gampang dipahami, status WLA ini kayak centang biru versi regulator kesehatan. Negara yang dapet label ini dianggap punya sistem regulasi yang kredibel, transparan, dan bisa dipercaya internasional. BPOM kini satu level dengan regulator top dunia, salah satunya Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia, yang juga dapet status serupa.

Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang, pengakuan ini bikin produk farmasi dan vaksin Indonesia punya tiket emas buat masuk daftar rekomendasi WHO. Kalau sudah direkomendasikan WHO, peluang dipakai lintas negara makin kebuka. Singkatnya, produk dalam negeri nggak cuma jago kandang, tapi siap tanding di level global.

Efek dominonya lumayan ngeri—dalam arti positif. Status WLA bisa dorong produksi obat dan vaksin dalam negeri, bikin Indonesia makin dekat sama target kemandirian kesehatan. Bukan cuma itu, pintu ekspor juga makin kebuka, yang ujung-ujungnya nyumbang ke ekonomi nasional. Bonus lainnya, rantai pasok kesehatan jadi lebih kuat dan tahan banting, apalagi kalau dunia lagi kena krisis kesehatan.

Menurut Taruna, capaian ini bukan hasil sulap semalam. Ini buah dari kerja panjang membangun sistem pengawasan obat dan makanan yang berbasis sains, berstandar internasional, dan bisa diuji siapa pun. Jadi bukan sekadar klaim, tapi memang lolos audit global.

Menariknya, penetapan BPOM sebagai WLA juga jadi tanda kalau WHO sudah resmi meninggalkan sistem lama bernama Stringent Regulatory Authorities (SRA). Sekarang dunia pakai satu sistem terpadu: WLA, yang lebih inklusif, terbuka, dan gampang dipercaya lintas negara.

Saat ini, jaringan WLA global sudah diisi 41 otoritas dari 39 negara. Masuknya Indonesia ke dalam daftar ini bikin peta regulasi dunia makin beragam, nggak melulu didominasi negara Barat.

WHO sendiri optimistis. Pejabat WHO Yukiko Nakatani menilai, jaringan WLA yang makin luas bakal memperkuat kolaborasi global dan bikin akses ke produk kesehatan yang aman, berkualitas, dan efektif jadi lebih cepat dan adil.

Kesimpulannya simpel: BPOM naik level, Indonesia ikut naik gengsi. Di isu kesehatan global, Indonesia sekarang bukan cuma penonton—tapi sudah jadi pemain.