ManusiaSenayan.id Dulu, nama Jihan Fahira identik dengan layar kaca. Sekarang, namanya muncul di daftar Anggota DPD RI. Plot twist? Iya. Tapi bukan yang asal belok—ini tipe perubahan jalur hidup yang kelihatan niat.

Kalau dulu Jihan berdiri di panggung hiburan dengan lampu sorot dan rating, hari ini panggungnya berganti: ruang aspirasi daerah, forum desa, rapat kebijakan, dan agenda pembangunan Jawa Barat. Penontonnya sama—publik. Bedanya, sekarang yang ditunggu bukan akting, tapi aksi nyata.

Siapa Sebenarnya Jihan Fahira?

Jihan Fahira lahir dan besar di Jakarta. Ia menempuh pendidikan formal dari SD Pesanggrahan Bintaro, SMP Negeri 19 Jakarta, hingga SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. Jalurnya cukup “normal”—sampai akhirnya hidupnya belok ke dunia yang nggak normal-normal amat: hiburan nasional.

Sejak tahun 1993, Jihan tercatat aktif sebagai model dan artis pemeran. Dunia hiburan membiasakannya hidup di ruang publik, menghadapi komentar netizen sebelum istilah “netizen” itu viral. Mentalnya terlatih: dikritik, dinilai, dan tetap harus tampil profesional.

Singkatnya, dia sudah kenyang dengan satu hal yang sekarang jadi tantangan banyak politisi: disorot publik.

Dari “Terkenal” ke “Terpilih”

Masuk ke politik jelas bukan sekadar ikut tren. Dalam beberapa wawancara, Jihan menyebut keputusannya terjun ke dunia politik lahir dari dorongan personal dan kepedulian sosial—terutama soal isu perempuan, pendidikan, dan keluarga. Ia juga memilih jalur DPD RI, yang artinya non-partai dan fokus ke kepentingan daerah.

Dan hasilnya bukan cuma wacana. Pada Pemilu 2024, Jihan Fahira resmi terpilih sebagai Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Barat untuk periode 2024–2029. Dari artis jadi senator—bukan cuma ganti kostum, tapi ganti tanggung jawab.

Panggung Baru, Kerjanya Lebih Banyak di Lapangan

Kerja DPD RI itu jarang viral. Nggak banyak gimmick. Tapi justru di situlah bobotnya.

Sebagai senator, Jihan lebih sering ditemui di desa dan komunitas, bukan di headline sensasional. Ia tercatat melakukan penyerapan aspirasi dengan warga, termasuk bertemu kader PKK dan perangkat desa di Jawa Barat. Obrolannya bukan soal trending topic, tapi urusan riil: keluarga, kesejahteraan, dan kebutuhan masyarakat.

Ia juga hadir dalam forum-forum pembangunan daerah, seperti kegiatan evaluasi pengelolaan keuangan desa. Topiknya mungkin terdengar “berat”, tapi efeknya nyata—karena kalau dana desa dikelola bener, dampaknya langsung ke hidup warga.

Di level perencanaan, Jihan juga terlibat dalam Musrenbang Provinsi Jawa Barat. Ini ruang serius: tempat arah pembangunan ditentukan, bukan tempat cari panggung.

Relatable Itu Bonus, Konsistensi Itu Wajib

Buat Gen Z, Jihan termasuk figur yang gampang diajak ngobrol. Nggak kaku. Nggak jaim. Tapi di politik, vibes doang nggak cukup.

Popularitas itu cuma tiket masuk. Yang diuji selanjutnya adalah konsistensi: aspirasi mana yang dikawal, isu mana yang diperjuangkan, dan seberapa serius kerja-kerja itu dijalankan tanpa perlu selalu disorot kamera.

Panggung Boleh Ganti, Tanggung Jawab Jangan

Perjalanan Jihan Fahira bukan cerita soal “artis masuk politik”. Ini cerita tentang orang publik yang memilih naik level tanggung jawab.

Dulu ia memainkan peran di depan kamera. Sekarang, ia menjalankan peran di depan masyarakat Jawa Barat. Dan di panggung baru ini, tepuk tangan bukan tujuan utama.

Karena yang paling penting bukan seberapa sering terlihat—
tapi seberapa banyak suara warga yang benar-benar dibawa dan diperjuangkan.