Manusiasenayan.id – Ngomongin hutan, jangan cuma kebayang pohon dan larangan tebang. Itu kira-kira pesan utama yang disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Sonny Tri Danaparamita saat Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi IV DPR RI di Kantor Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Surabaya, Jumat (30/01/2026). Intinya jelas: pengelolaan hutan harus berkelanjutan, diawasi ketat, dan melibatkan masyarakat.
Menurut Sonny, urusan hutan nggak bisa dilepas dari kepentingan ekologis. Lingkungan harus tetap jadi prioritas utama di setiap kebijakan. Tapi di sisi lain, kalau ada yang melanggar aturan—baik dari internal Perhutani maupun masyarakat sekitar—pendekatannya nggak melulu soal sanksi. Edukasi tetap penting supaya semua pihak paham aturan main dan tujuan besarnya.
Politikus PDI Perjuangan ini juga menyoroti soal izin perhutanan sosial yang masih mandek di sejumlah titik. Kondisi ini berpotensi bikin wilayah abu-abu, rawan konflik, dan bikin masyarakat bingung soal hak dan kewajiban mereka. Karena itu, Sonny mendorong koordinasi yang lebih intens antara Perhutani dan para penerima manfaat, biar nggak ada lagi yang jalan sendiri-sendiri.
Nggak cuma urusan hutan produksi, Sonny juga angkat soal unit usaha Perhutani, Palawi. Menurutnya, masih ada ganjalan dalam kerja sama dengan pemerintah daerah. Beberapa kepala daerah mengeluh karena investasi sudah keluar, tapi manfaat yang dirasakan belum sebanding. Bahkan, ada persoalan data pendapatan sektor pariwisata yang belum sinkron. Buat Sonny, ini alarm keras soal pentingnya transparansi dan akuntabilitas.
Meski begitu, Sonny tetap kasih kredit ke Perhutani Jawa Timur. Apresiasi iya, tapi nggak boleh bikin lengah. Justru harus jadi pemicu buat perbaikan berkelanjutan, terutama dalam pelibatan masyarakat sekitar hutan. Ia bahkan berjanji akan memfasilitasi pertemuan langsung antara Perhutani dan warga di daerah pemilihannya.
Potensi ekonomi di sekitar kawasan hutan, kata Sonny, sebenarnya gede banget. Salah satunya lewat pemanfaatan tenaga kerja lokal seperti penyadap getah. Kalau ditekuni serius, penghasilannya bisa bersaing, bahkan melampaui profesi lain. Tapi lagi-lagi, edukasi tetap krusial—terutama soal pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, apalagi di wilayah dengan kelerengan tinggi.
Di ujung pernyataannya, Sonny menegaskan satu hal yang jadi benang merah semuanya: kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan itu paket kombo. Nggak boleh saling bertabrakan. “Sudah waktunya dua kepentingan ini duduk bareng, cari solusi,” kira-kira begitu semangatnya. Versi sederhananya: hutan harus lestari, warga harus sejahtera—dan dua-duanya bisa jalan barengan.
