Manusiasenayan.id – Kalau lo kira politisi lahir dari ruang rapat doang, cerita Ansory Siregar beda jalur. Sebelum duduk manis (atau tegang) di kursi DPR RI, dia sudah kenyang asam garam dunia pendidikan—bahkan sampai luar negeri.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Nagasaribu, Paluta (1971–1977), lanjut ke SMPN Lumut, Tapanuli Tengah (1977–1981). Tapi titik baliknya ada di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (1981–1987). Dari Gontor, wawasannya nggak cuma nasional, tapi langsung tembus internasional. Ia melanjutkan studi ke Damaskus, Syria (1987–1992)—pengalaman yang jelas nggak kaleng-kaleng buat ukuran anak muda era itu.

Menariknya, saat masih di rentang awal 90-an, Ansory sudah dipercaya jadi Dosen di Islamic Center Den Haag, Netherlands (1990–1991). Iya, ngajar di Eropa. Bukan cuma belajar ke luar negeri, tapi juga berbagi ilmu di sana. Setelah kembali ke Indonesia, karier akademiknya lanjut tanpa rem. Sejak 1992 hingga sekarang, ia tercatat sebagai dosen di Sekolah Tinggi Islam Al-Hikmah Jakarta.

Selain itu, ia juga aktif mengajar di berbagai lembaga: Ma’had Al Mubarok Jakarta (1992–2000), SMPIT Al-Hikmah Jakarta (1992–2004), Ma’had Al-Furqon Jakarta (1998–2000), hingga SMPIT Darul Hikmah Jakarta (1999–2004). Singkatnya, sebelum jadi legislator, Ansory sudah lebih dulu jadi guru dan pendidik. Fondasinya jelas: pendidikan dan pembinaan.

Karier politiknya di DPR RI dimulai sejak 2004–2009 sebagai Anggota DPR RI Fraksi PKS, dan berlanjut tanpa putus sampai periode 2019–2024. Empat periode, bro. Itu artinya kepercayaan publik ke dia nggak main-main. Di parlemen, ia bertugas di Komisi VIII DPR RI, komisi yang membidangi urusan agama, sosial, pemberdayaan perempuan, dan penanggulangan bencana—isu-isu yang dekat banget sama denyut masyarakat.

Di internal partai, Ansory juga punya posisi strategis. Ia pernah jadi staf DPP PKS dan kini menjabat sebagai Ketua Departemen Kerjasama Kelembagaan BPU DPP PKS (2020–sekarang). Track record organisasinya juga panjang: pernah jadi Ketua Umum PPI Damaskus, Syria, aktif di Islamic Cultural Centrum of Netherland (ICCN), hingga terlibat di DPP Wilda Sumatera.

Soal apresiasi, namanya pernah menerima penghargaan dari Sekolah Kepemimpinan Serikat Pekerja se-Indonesia (2013), dukungan profesi dari PP PPNI (2015), dan Penghargaan FGD Kesehatan Fraksi PKS (2017).

Dari pesantren ke Damaskus, dari Den Haag ke Senayan—Ansory Siregar bukan cuma politisi, tapi juga pendidik yang naik kelas jadi wakil rakyat. Kombinasi akademisi dan legislator ini yang bikin langkahnya di Komisi VIII terasa punya akar dan arah.