Manusiasenayan.id – Kasus 70 anak sekolah yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem lewat grup daring True Crime Community (TCC) bikin parlemen angkat suara. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyebut temuan ini bukan sekadar insiden biasa, tapi alarm nasional soal rapuhnya perlindungan anak di ruang digital.

Menurut Singgih, anak-anak berada di fase perkembangan psikologis yang masih labil dan mudah menyerap pengaruh dari luar. Ketika konten kekerasan, ekstremisme, dan glorifikasi tindakan brutal masuk tanpa filter, dampaknya bisa serius.

“Ini bukan persoalan kecil. Paparan ideologi kekerasan berpotensi membentuk cara berpikir dan perilaku anak ke arah yang menyimpang,” ujar Singgih. Ia menegaskan, negara dan masyarakat tidak boleh menyepelekan ruang digital yang kini jadi “ruang main” utama generasi muda.

Singgih menyoroti peran orang tua sebagai benteng pertama. Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya soal membatasi gawai atau memasang parental control. Orang tua harus benar-benar hadir secara utuh dalam kehidupan digital anak.

“Orang tua perlu tahu apa yang ditonton anak, siapa teman ngobrolnya di media sosial, dan topik apa yang mereka bahas di ruang digital. Pendampingan itu wajib, bukan opsional,” tegasnya.

Selain keluarga, sekolah juga diminta tidak lepas tangan. Singgih menilai banyak anak bisa terjerumus ke komunitas berbahaya karena minimnya ruang dialog, lemahnya pendampingan, serta kurangnya perhatian pada kesehatan mental.

Ia mendorong sekolah untuk lebih aktif mendeteksi perubahan perilaku, memperkuat pendidikan karakter, dan membangun literasi digital sehat. Guru dan konselor perlu dibekali kemampuan membaca tanda-tanda awal anak yang mulai terpapar konten ekstrem.

Sebagai wakil rakyat, Singgih mengingatkan bahwa negara punya kewajiban konstitusional melindungi hak anak atas rasa aman. Ia menegaskan, penanganan kasus ini tidak boleh semata-mata represif.

“Anak-anak ini adalah korban. Pendekatannya harus humanis, preventif, dan edukatif. Mereka perlu diselamatkan, didampingi, dan dipulihkan,” katanya.

Kasus ini mencuat setelah Densus 88 Antiteror Polri mengungkap pelaku pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, terpapar ideologi ekstrem lewat grup TCC. Pelaku disebut satu komunitas dengan siswa SMA yang terlibat ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyebut ada lebih dari 70 anak yang diduga terpapar. Aparat masih mendalami keberadaan grup serupa yang berpotensi melibatkan anak-anak lain.

“Kalau kita gagal melindungi anak hari ini, kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa,” tutup Singgih.