ManusiaSenayan.id – Di tengah wajah DPR yang sering diasosiasikan dengan jas gelap dan rambut beruban, nama Andhika Satya muncul sebagai anomali yang bikin orang nengok dua kali. Usianya masih 20-an, gaya komunikasinya santai, tapi kursinya serius: anggota DPR RI dari Partai Golkar.
Buat sebagian orang, ini sekadar cerita “anak muda masuk Senayan”. Tapi buat pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, kehadiran Andika justru dibaca sebagai sinyal: akhirnya ada yang seumuran dan paham medan.
Dari Gen Z ke Senayan
Nama lengkapnya Andhika Satya Wasistho Pangarso. Ia resmi menjadi anggota DPR RI pada 18 Februari 2025 melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW), menggantikan Nusron Wahid. Andika mewakili Daerah Pemilihan Jawa Tengah II, wilayah yang dikenal kuat dengan basis UMKM, industri rumahan, dan ekonomi kreatif berbasis lokal.
Ia ditempatkan di Komisi VII DPR RI, komisi yang membidangi industri, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Penempatan ini terasa relevan, apalagi melihat latar belakangnya yang tidak asing dengan dunia usaha dan organisasi kepemudaan.
Bukan Asal Muda
Di usia yang masih dekat dengan bangku kuliah, Andika sudah lebih dulu bersentuhan dengan dunia organisasi. Ia tercatat aktif di berbagai organisasi kepemudaan, mulai dari AMPG, GEMA MKGR, hingga KNPI Jawa Tengah. Jalur ini membuatnya akrab dengan diskusi lapangan—bukan cuma wacana, tapi problem riil anak muda dan pelaku usaha kecil.
Di luar politik, Andika juga memiliki pengalaman sebagai pelaku usaha. Ia pernah tercatat sebagai pemilik usaha kuliner dan terlibat dalam beberapa entitas bisnis. Pengalaman ini membentuk perspektif yang cukup jarang dimiliki legislator seusianya: tahu rasanya ngurus izin, mikir modal, sampai menghadapi naik-turunnya pasar.
UMKM, Kreatif, dan Realita Lapangan
Masuk ke Komisi VII, Andika berada di “rumah” isu-isu yang dekat dengan keseharian Gen Z: UMKM digital, industri kreatif, pariwisata berbasis lokal, dan ekonomi komunitas. Dalam beberapa kegiatan kedewanan, ia menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan pada pelaku usaha kecil—bukan sekadar bantuan, tapi juga akses pasar, pendampingan, dan keberlanjutan usaha.
Bagi Andika, UMKM bukan objek statistik. Banyak di antaranya adalah anak muda yang memulai usaha dari dapur rumah, coffee shop kecil, atau brand kreatif berbasis media sosial. Tantangannya bukan cuma modal, tapi juga regulasi, konsistensi, dan daya saing.
Tantangan Wakil Gen Z
Tentu, menjadi anggota DPR di usia muda bukan tanpa beban. Ekspektasi publik tinggi, sorotan lebih tajam, dan ruang salah lebih sempit. Label “wakil Gen Z” bisa jadi kekuatan, tapi juga jebakan kalau tidak diimbangi kerja nyata.
Andika paham betul soal itu. Ia beberapa kali menegaskan bahwa usia muda bukan alasan untuk diperlakukan istimewa—justru sebaliknya, harus menjadi pembuktian. Di tengah dinamika parlemen yang kompleks, ia mencoba menempatkan diri sebagai jembatan: antara aspirasi generasi muda dan mekanisme politik yang sudah mapan.
Simbol Regenerasi, Bukan Sekadar Gimmick
Kehadiran Andika Satya di DPR RI mencerminkan satu hal penting: regenerasi politik bukan lagi wacana. Anak muda tidak hanya hadir sebagai penonton atau buzzer, tapi mulai masuk ke ruang pengambilan keputusan.
Apakah semua masalah UMKM dan ekonomi kreatif akan langsung selesai? Tentu tidak. Tapi dengan wakil yang seumuran, memahami konteks zaman, dan punya pengalaman langsung, setidaknya suara pelaku usaha muda kini punya jalur yang lebih dekat ke pusat kebijakan.
