Manusiasenayan.id – Kalau Jakarta lagi nunggu UMP kayak nunggu album comeback, buruh daerah sekarang lagi nunggu UMK kayak nunggu acc follow dari gebetan yang di-pending provinsi. Dan di tengah suasana ini, Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, muncul bawa megafon imajiner sambil bilang:

“Gubernur, jangan edit UMK. Itu bukan draft Story IG!”

Tuntutan buruh kali ini bukan pakai ilmu kira-kira, tapi pakai rumus statistik alpha 0,9—yang terdengar lebih saintifik dari “aku cuma pengin kamu setia”. Dengan formula ini, kenaikan UMK diharapkan tembus 6,78–7,31%, alias naik tipis-tipis tapi pasti, kayak harga gorengan di kantin yang tiap minggu +500 rupiah, tapi gak pernah rapat.

Menurut Andi Gani, UMK yang diusulkan bupati/wali kota itu udah kayak keputusan keluarga besar saat arisan: dirundingin lama, disepakatin rame-rame, diumumin singkat, dan semua udah kebagian peran. Ada pemerintah daerah, ada pengusaha, ada serikat pekerja. Semuanya duduk bareng, bukan buat foto-foto, tapi buat deal upah.

Tapi masalahnya, keputusan ini masih bisa “naik kelas” ke provinsi, dan di sana ada potensi besar kejadian:

  • UMK berubah,
  • buruh kaget,
  • hubungan industrial masuk mode: error 502 Bad Gateway.

Andi Gani menegaskan, kalau gubernur sampai ngubah angka UMK, efeknya bukan sekadar editan biasa. Ini bisa bikin buruh gelisah level akut, kayak:

“UMK gue di nerf nih? Emang gue karakter Mobile Legends?”

Karena di kepala buruh, UMK itu bar status hidup, bukan angka kosmetik. Dan Andi Gani paham banget vibe itu. Makanya beliau bilang:

“Jangan menafikan perundingan tingkat kabupaten/kota!”

Dalam bahasa tongkrongan, maksudnya kurang lebih:

“Bang, mbak, mas gubernur… ini bukan upah versi mod APK. Ini hasil original, resmi, udah diskusi lintas daerah, jangan di-patch ulang tanpa consent!”

Andi Gani juga spill bahwa dialog UMK di daerah itu prosesnya panjang, bukan kayak sidang kilat. Semua pihak ngomong, nego, ngitung, sampai sepakat. Sepakat di sini bukan sepakat ala chat:

“Kamu sibuk ya?”
“Iya.”
“Oh.”

Bukan. Ini sepakat yang berdarah-darah, berkeringat-keringat, dan ujungnya: “Deal.”

Andi Gani juga wanti-wanti: perubahan UMK di provinsi bisa memicu ketidakpercayaan buruh. Dan kalau kepercayaan buruh udah hilang, itu bukan drama sinetron lagi, itu drama laga, bisa ada demo dadakan yang narasinya:

“Upah kami bukan beta version!”

KSPSI berharap semua proses ini kondusif, adil, dan stabil. Stabil itu keyword penting. Karena yang stabil itu jarang ada di dunia pengupahan Indonesia:

  • Cuaca gak stabil,
  • harga kebutuhan hidup gak stabil,
  • nilai tukar rupiah stabil? Debatable,
  • tapi anggaran kalau mau habis selalu stabil di akhir tahun.

Andi Gani lalu closing statement yang tegas banget:

“Gubernur tidak boleh menafikan perundingan kabupaten/kota.”

Kalau diplesetin dikit ke Gen Z language:

“Respect the local deal. No edit. No delete. No replace.”

Karena bagi buruh, UMK itu bukan sekadar angka, itu validasi hidup yang ditunggu bukan pakai centang biru, tapi pakai keadilan.

Jadi sekarang semua buruh daerah lagi kompak doa bareng:

“Ya Allah, semoga UMK kami bukan cuma disaksikan provinsi, tapi juga disahkan tanpa revisi yang bikin meringis.”