ManusiaSenayan.id – Kabar dari dunia riset nih: BRIN lagi siap-siap naikin dana riset nasional sampai 50%. Iya, 50 persen, bukan “nanti kita bahas di rapat berikutnya”. Kepala BRIN, Arif Satria, ngumumin ini abis acara ketemu Presiden Prabowo bareng sekitar 1.200 guru besar, rektor, dan dekan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (15/1). Kebayang kan vibes-nya? Ruangan penuh akademisi, tapi mood-nya mendadak cerah kayak abis dapet WiFi gratis.
Arif bilang, komitmen Presiden soal riset ini bikin banyak pihak seneng. “Beliau punya komitmen dan tadi sudah menyampaikan dan ini disambut gembira oleh para guru besar bahwa jumlah yang akan ditingkatkan sekitar 50 persen dari dana yang sekarang ini,” kata Arif. Versi anak mudanya: para profesor auto “akhirnyaaaa” (dengan tepuk tangan sopan, tentunya).
Soalnya selama ini, kondisi dana riset kita tuh… gimana ya… kayak mau bikin konten tapi kuota tinggal 3%. Arif nyebutin dana riset Indonesia sekarang baru sekitar 0,3% dari PDB. “Ini jumlah yang sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara lain,” ucap dia. Ya kalau negara lain udah main “level expert”, kita masih tutorial, tapi tutorialnya penting kok—asal jangan kelamaan di “skip” mulu.
Nah, kalau dana ini beneran naik, harapannya riset bisa jadi mesin pendorong masa depan, bukan sekadar bahan presentasi yang slide-nya kebanyakan. Arif bilang dana riset yang lebih gede bisa bantu program strategis yang bisa “ngedongkrak” banyak hal: ekonomi naik, kemiskinan ditekan, dan lapangan kerja makin kebuka. “Bisa men-support berbagai program-program yang strategis yang bisa mendongkrak. Satu, pertumbuhan ekonomi. Kedua, mengatasi kemiskinan. Kemudian juga menciptakan lapangan kerja,” ujarnya. Intinya: riset bukan cuma biar keliatan pinter, tapi biar hidup orang banyak juga makin oke.
BRIN juga lagi nyiapin penguatan riset di sektor yang dekat sama kehidupan sehari-hari: tekstil, sepatu, sampai industri strategis macam dirgantara. Jadi bukan cuma ngomongin roket (walau roket juga keren), tapi juga hal-hal yang bikin industri jalan dan orang tetap punya kerjaan.
Di bidang dirgantara, Arif nyenggol soal pengembangan pesawat N219, kolaborasi BRIN dan PT Dirgantara Indonesia. Targetnya, risetnya kelar sekitar akhir 2026 atau awal 2027 dan bisa lanjut bikin pesawat amfibi. “Moga-moga awal 2027 atau akhir 2026 sudah bisa selesai risetnya, kemudian kita bisa menghasilkan pesawat Amfibi,” ucap dia. Semoga bukan “moga-moga” doang ya—biar kita nggak cuma jago harapan, tapi juga jago realisasi.
Jadi ya, kalau dana riset beneran naik 50%, ini bisa jadi momen “Indonesia upgrade” versi ilmiah: lebih banyak inovasi, lebih banyak solusi, dan semoga lebih sedikit drama birokrasi. Sopan, tapi jujur: kita butuh riset yang bukan cuma rame di berita, tapi juga terasa di dunia nyata.
