Manusiasenayan.id – Nama Dede Yusuf itu unik. Begitu disebut, ingatan publik langsung lompat ke dua dunia sekaligus: film laga era 90-an dan politik Jawa Barat. Jarang ada tokoh yang bisa nyebrang sejauh itu—dari idola pop sampai pejabat publik—dan tetap relevan.
Lahir di Jakarta, 14 September 1966, Dede Yusuf dikenal luas lebih dulu sebagai aktor dan bintang film. Era VHS sampai VCD, wajahnya sering muncul sebagai jagoan: fisik kuat, citra bersih, dan dekat dengan publik. Tapi di titik tertentu, dia milih belok arah—masuk ke dunia politik, saat banyak selebritas masih ragu-ragu.
Masuk Senayan pertama kali pada 2004, Dede duduk sebagai Anggota DPR RI. Dari situ, karier politiknya naik signifikan saat dipercaya menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat (2008–2013). Di era itu, ia dikenal aktif turun ke lapangan, dekat dengan komunitas muda, olahraga, dan isu sosial—gaya yang beda dari birokrat konvensional.
Yang sering luput, Dede Yusuf bukan sekadar modal popularitas. Pendidikan formalnya ia kejar serius: S1 Teknologi Industri, S2 Ilmu Pemerintahan, hingga S3 Administrasi Publik di Universitas Padjadjaran. Jalur akademik ini bikin posisinya di politik nggak cuma “figur publik”, tapi juga punya landasan kebijakan.
Setelah sempat rehat dari DPR, Dede kembali ke Senayan sebagai Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat. Ia duduk di Komisi II—komisi yang ngebahas urusan krusial: pemerintahan daerah, otonomi, pemilu, dan birokrasi. Cocok dengan latar belakangnya sebagai mantan kepala daerah dan birokrat politik.
Di luar parlemen, Dede Yusuf juga lama aktif di Pramuka, Badan Narkotika, dunia kebudayaan, dan organisasi sosial. Bahkan ia dikenal sebagai Duta Persib, simbol kedekatannya dengan kultur populer Jawa Barat. Ini yang bikin citranya relatif awet: politisi yang tetap nyambung dengan akar sosial.
Penghargaan datang dari banyak arah—dari dunia olahraga, kepemudaan, hingga politik. Tapi yang bikin Dede Yusuf bertahan bukan pialanya, melainkan kemampuannya beradaptasi lintas zaman. Dari era film laga, reformasi, sampai politik digital hari ini.
Dede Yusuf adalah contoh politisi yang datang dari budaya pop, tapi nggak tenggelam di sana. Dia belajar, bertransformasi, lalu bertahan. Di politik yang sering alergi sama latar non-tradisional, Dede justru membuktikan: asal mau kerja dan belajar, jalur masuk itu nomor dua.
Dulu jagoan layar. Sekarang jagoan regulasi.
Kadang berubah peran, tapi tetap main di panggung besar.
