ManusiaSenayan.id – Senin (25/8/2025) depan Gedung DPR/MPR RI panas kayak kompor kosan mahasiswa. Sejumlah elemen masyarakat turun ke jalan, marah besar soal tunjangan perumahan DPR yang tembus Rp 50 juta per bulan. Aksi yang awalnya damai malah berakhir ricuh, mungkin karena rakyat bingung: “Ini demo atau iklan rumah mewah?”

Aliansi Rakyat Bergerak ngasih judul keren ke aksi mereka: Indonesia Gelap, Revolusi Dimulai. Salah satu tuntutannya jelas—batalkan tunjangan rumah DPR. Rakyat sih mikirnya simple: kalau anggota DPR dikasih Rp 50 juta sebulan buat rumah, rakyat juga pengen minimal dapet diskon listrik biar nggak gelap beneran.

Sekjen DPR Indra Iskandar punya alasan. Katanya, rumah jabatan DPR di Kalibata udah kayak kosan angker: bocor kalau hujan, dinding retak, dan katanya udah nggak layak huni. Jadi solusinya: kasih duit Rp 50 juta per bulan biar anggota DPR bisa cari kontrakan sendiri. Maklum, katanya rumah di sekitar Senayan harganya segitu.

Wakil Ketua DPR Adies Kadir malah bilang tunjangan segede itu make sense. Katanya, anggota DPR nggak mungkin ngekos Rp 3 juta per bulan. “Nggak nyaman, Bro. Mana bisa bawa mobil kalau kosan parkirnya cuma muat motor beat,” ujarnya. Jadi DPR butuh rumah kontrakan level sultan—yang ada garasi gede buat mobil dinas.

Sementara itu, Banggar DPR Said Abdullah punya kalkulasi ala akuntan. Menurutnya, kasih Rp 50 juta per bulan itu jauh lebih hemat daripada renovasi rumah jabatan yang bisa ngabisin ratusan miliar tiap tahun. Logikanya: daripada renovasi komplek Kalibata, mending langsung kasih cash. Simpel, efisien, sekaligus bikin rakyat gigit jari.

FYI, rumah jabatan DPR di Kalibata itu dibangun sejak 1988. Artinya udah uzur, 37 tahun. Tapi masalahnya, rakyat juga banyak yang udah puluhan tahun ngontrak, nggak pernah dapet tunjangan, dan tetap survive. Bedanya, mereka demo di jalan, sementara DPR sibuk debat: “Mau tinggal di rumah cluster, apartemen, atau vila?”

Kalau gini terus, jangan-jangan slogan Indonesia Gelap beneran kejadian. Bukan karena mati lampu, tapi karena rakyat makin nggak kebagian terang.