ManusiaSenayan.id – Anggota Komisi XII DPR, Bang Aqib Ardiansyah, lagi semangat banget nih gengs. Katanya, Indonesia butuh payung hukum yang kuat buat ngadepin krisis iklim. Biar nggak cuma modal doa sama upload foto nanem pohon setahun sekali.

RUU PPI harus jadi prioritas. Kita nggak boleh ketinggalan bikin landasan hukum buat program pengelolaan iklim yang lebih ambisius, inklusif, dan terintegrasi,” kata Bang Aqib di Parliamentary Climate Action Day di Senayan.

Kalau punya regulasi mantap, katanya kita bisa ngegas ngatur emisi lintas sektor, ngebut transisi energi, sampai dapet duit hijau dari luar negeri. Siapa tau dapet cashback dari perdagangan karbon atau pajak karbon. Tapi ya harus ada aturan biar nggak kayak main monopoli.

Acara ini kerja bareng Badan Keahlian DPR sama Westminster Foundation for Democracy (WFD), bawa tema “Localising Global Mandate to Local Action”. Bahasa kerennya sih biar target global nggak cuma copas, tapi beneran bisa dieksekusi lokal.

Bang Aqib juga kasih shout out ke Badan Keahlian DPR yang udah susah payah bikin naskah akademik bareng akademisi dan masyarakat sipil. Jadi nggak asal bikin regulasi setengah matang.

Pembicara dari KLHK, Bappenas, dan lainnya bilang ratifikasi Persetujuan Paris lewat UU 16/2016 itu ibarat kartu member gym tapi nggak pernah olahraga. Makanya perlu RUU PPI biar koordinasi lintas kementerian dan pendanaan iklim nggak kayak benang kusut.

Kepala Badan Keahlian DPR, Pak Inosentius Samsul, bilang mereka serius. Lagi finalisasi kajian RIA dan CBA, didukung UK PACT. Katanya sampai pertengahan 2025 sudah 40+ kali konsultasi dengan berbagai pihak.

Bang Aqib menutup dengan gaya politisi bijak: “Perubahan iklim itu persoalan lintas sektor. RUU PPI adalah fondasi biar semua kementerian jalan bareng. DPR, khususnya Fraksi PAN, bakal kawal ini sampai pembahasan.”

Jadi gitu gengs, DPR kali ini mau buktiin kalau peduli lingkungan nggak cuma modal caption IG bilang: “Save the Earth!”