ManusiaSenayan.id Ternyata medsos nggak cuma buat update story kopi atau joget TikTok, tapi juga jadi senjata DPR RI buat jaga citra. Deputi Persidangan DPR RI, Suprihartini, bilang media sosial itu sekarang kanal utama buat membangun persepsi publik.

“Dengan adanya workshop ini, kami berharap terbentuk sinergi editorial antar-kanal dan antar-unit kerja, dan kemudian tercipta ekosistem komunikasi digital yang saling mendukung dan konsisten secara narasi, serta meningkatkan kualitas konten yang berdampak positif terhadap citra lembaga,” ujarnya di Workshop Strategi Editorial Terintegrasi “Satu Narasi Multikanal” di DPR.

Supri ngegas kalau nyatuin narasi itu penting banget. “Menyatukan narasi dalam peran pengelolaan komunikasi di dalam lembaga DPR RI sangat krusial,” tegasnya. Alasannya? DPR RI ternyata punya 61 akun media sosial yang dikelola berbagai unit kerja. Menurutnya, jumlah segitu gede banget dan rawan bikin publik terima informasi yang beda-beda.

Biar nggak kayak grup WhatsApp keluarga yang isinya saling bantah, workshop ini disebut sebagai langkah awal. “Workshop ini menjadi langkah awal dalam kolaborasi yang lebih kuat, komunikasi yang lebih strategis, dan kehadiran media sosial DPR RI yang semakin relevan, terpercaya, dan mencerminkan kerja nyata parlemen untuk rakyat,” jelas Supri.

Harapannya, medsos DPR nanti nggak cuma posting foto rapat atau pidato, tapi juga bikin konten yang gampang nyambung sama rakyat. Karena kalau cuma citra yang dijaga tapi interaksi minim, ya takutnya publik merasa DPR cuma numpang lewat di feed mereka. Citra oke itu penting, tapi kalau mau like dan trust dari rakyat, itu PR yang nggak bisa cuma diselesaikan dengan filter dan caption manis.