ManusiaSenayan.id Ulos itu ibarat “OG-nya” fashion Batak. Keren dari sononya, penuh makna, dan tiap motif punya cerita. Tapi sayangnya, para pengrajin ulos di Tapanuli Utara, Toba, dan Samosir masih harus jungkir balik dulu sebelum karya mereka bisa benar-benar menghasilkan cuan yang stabil. Hal ini jadi sorotan serius tapi vibes-nya tetap positif dari Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu.

Bane nemuin fakta yang agak ngenes: daerah Tapanuli memang pusat ulos nomor satu di Sumut, tapi pengrajinnya masih sering bergantung pada utang bahan baku.

Jadi sebelum motifnya dijual, benangnya duluan yang “ngutang vibes”. Masalah pemasaran juga belum mulus. Banyak karya cakep tapi susah menembus pasar lebih luas—ibarat konten kreatif yang keren tapi nggak naik FYP.

Makanya Bane minta pemerintah jangan cuma kasih pelatihan sekali terus hilang kayak selebgram pas abis endorse-an. Ia bilang, “Jangan hanya sistem datang-pergi untuk bimtek.

Harus ada pendampingan jangka panjang, minimal tiga tahun, sampai para pengrajin benar-benar lulus dan layak masuk pasar serta menjadi produk kebanggaan Sumatera Utara.”

Menurutnya, peningkatan kualitas wajib dilakukan: mulai dari desain, teknik pewarnaan, sampai proses tenun yang lebih modern tapi tetap menghargai pakem tradisi. Akses bahan baku dan modal usaha juga harus gampang, nggak pake drama.

Rencana KUR Ekraf 2026 sebesar Rp10 triliun pun langsung disambutnya dengan senyum optimis. Ia menegaskan, “Kalau perbankan sudah siap memberi akses modal bagi pelaku ekraf, maka kementerian harus sejalan. Para pengrajin harus benar-benar dilatih agar bankable.”

Visi Bane cukup ambisius tapi masuk akal: ulos naik kelas, nggak cuma jadi pakaian adat, tapi bisa nongol di runway internasional dan jadi brand global.

Ia menutup dengan harapan, “Harapan kita, masyarakat Indonesia dan internasional menjadikan ulos sebagai bagian dari pakaian sehari-hari. Tapi itu semua butuh proses dan penguatan brand.”