ManusiaSenayan.id Kalau ngomongin nama keluarga “Novanto”, banyak orang langsung auto inget drama e-KTP. Sebelum orangnya muncul, stereotipnya udah duluan jalan. Di tengah label seberat itu, ada satu nama baru yang sekarang nongol di Senayan: Gavriel Putranto Novanto.

Buat banyak orang, reaksi pertamanya simpel banget: “Loh, ini anaknya Setya Novanto, kan?”
Dan iya, bener. Tapi ceritanya nggak sesederhana “anak pejabat ikut-ikutan nyaleg”. Sekarang, di usia akhir 20-an, Gavriel udah duduk sebagai anggota DPR RI 2024–2029 dari Dapil NTT II lewat Partai Golkar. Generasi yang dulu cuma nonton bapaknya di berita TV, sekarang harus ngehadepin anaknya yang jadi wakil rakyat.

Pertanyaannya:
ini bakal jadi sequel drama lama,
atau justru spin-off baru yang lebih waras dan relevan buat NTT?

Dari Jakarta, Kuliah di US, Pulang-Pulang Udah di Senayan

Gavriel lahir di Jakarta, 8 Oktober 1997. Jadi dia bukan angkatan Orba, tapi generasi yang tumbuh di era YouTube, Twitter, sampe TikTok. Background pendidikannya juga bukan kaleng-kaleng. Ia kuliah S1 Business Administration di Marymount California University, Amerika Serikat, lalu lanjut S2 Master of Science di Pepperdine University. Intinya, CV akademiknya sudah sangat “anak global”.

Abis lulus, dia nggak langsung nyemplung ke partai. Dia sempat turun ke dunia bisnis, fokus di usaha fuel yang supply BBM ke tambang dan industri berat di berbagai daerah. Pas pandemi, perusahaannya juga ikut kejedot situasi—jadi bukan cuma rakyat biasa yang ngerasain susah, tapi pebisnis muda model dia pun kena mental dan kena rugi.

Di sisi lain, Gavriel juga sempat main di ranah hiburan digital. Dia terlibat dalam channel YouTube “Bacot TV”, yang isinya obrolan santai, receh, tapi relate banget sama anak muda. Channel ini sempat naik lumayan kenceng sebelum kemudian sebagian sahamnya dijual ke KUY Entertainment. Dari sini kelihatan kalau dia bukan tipe politisi yang lahir dari ruang rapat partai doang; ada sisi konten kreator dan “anak internet”-nya juga.

Ngebut di NTT: Otomotif, Komunitas, dan Jalan ke Senayan

Relasi Gavriel sama Nusa Tenggara Timur nggak cuma muncul pas Pemilu. Ia sempat jadi Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) NTT periode 2022–2026. Buat anak motor dan pecinta otomotif, IMI itu rumahnya komunitas balap dan event bermesin. Jadi, dari sini dia nggak cuma dikenal sebagai “anak Setnov”, tapi juga sebagai orang yang ada di belakang event-event otomotif di NTT.

Dari otomotif ini, narasinya pelan-pelan geser. Bukan cuma “Jakarta boy numpang dapil di Timur”, tapi jadi sosok yang lumayan sering bersentuhan sama komunitas dan event di NTT. Pergerakannya di IMI bikin jalannya ke Senayan lewat Dapil NTT II jadi kelihatan lebih make sense: ada jejak, ada interaksi, bukan cuma numpang nama di baliho.

Dari Bacot TV ke Komisi I

Pemilu 2024 jadi momen lompatannya. Lewat Partai Golkar, Gavriel maju dari Dapil NTT II, dapat suara puluhan ribu, dan resmi duduk sebagai anggota DPR RI. Di Senayan, dia ditempatkan di Komisi I yang ngurus isu-isu berat: pertahanan, hubungan luar negeri, komunikasi dan informatika, sampai intelijen.

Buat orang yang pernah main di dunia konten digital, posisi di Komisi I cukup nyambung ke isu transformasi digital, pemerataan akses internet, dan keamanan ruang siber. Hal ini kelihatan banget dari salah satu fokus awal kinerjanya: akses internet di NTT.

Baru beberapa minggu dilantik, Gavriel langsung turun ke Kabupaten Kupang buat kunjungan kerja perdana. Di sana ia ikut menyerahkan bantuan akses internet BAKTI Kominfo untuk Jemaat GMIT Imanuel Oesao dan SMP Negeri 6 Fatuleu Tengah, sambil dengerin keluhan soal sinyal dan kesenjangan digital di daerah itu.

Kunjungan berikutnya, ia lanjut cek program yang sama di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Bareng tim BAKTI Kominfo, ia mampir ke sekolah-sekolah seperti SMPN Oelneke dan SMPN Oetulu, sekaligus ngecek langsung pemanfaatan fasilitas internet di perbatasan dan daerah terpencil.

Di salah satu titik, yaitu Puskesmas Oelbiteno, Gavriel denger langsung keluhan tenaga kesehatan soal susahnya sinyal dan akses internet untuk pelayanan. Hal-hal kayak gini yang kemudian dia jadikan bahan dorongan kebijakan di Komisi I, supaya urusan “no signal” di NTT nggak cuma jadi bahan meme, tapi beneran ada follow up anggaran dan program.

Selain soal internet, sebagai anggota Komisi I yang sering berurusan dengan TNI, ia juga bangun komunikasi dengan jajaran pertahanan. Salah satunya lewat kunjungan silaturahmi ke Lanud El Tari di Kupang, ketemu langsung Danlanud dan bahas soal sinergi kerja, termasuk karena ia juga merangkap sebagai Ketua IMI NTT yang sering bikin event otomotif dan butuh koordinasi keamanan.

Nama Gavriel juga sempat ramai ketika ia duduk di Panja RUU TNI, RUU yang lumayan panas karena banyak menuai pro-kontra. Di sini, setiap sikapnya otomatis dikaitkan dengan pertanyaan besar: dia bakal ikut arus, atau berani tampil beda?

Mencoba Keluar dari Shadow E-KTP

Kasus e-KTP kayak awan gelap yang selalu nongkrong di atas nama keluarga Novanto. Secara hukum, perkara itu urusannya sang ayah. Tapi secara persepsi publik, sulit banget misahin Gavriel dari sejarah itu. Di banyak kepala, labelnya otomatis: “anak koruptor”.

Di zaman dulu, mungkin cerita berhenti di sana. Anak pejabat naik, duduk di kursi, dan publik cuma bisa ngeluh pelan sambil ngopi. Tapi sekarang beda banget. Anak muda bisa pantau voting, cek isi RUU, baca berita dari banyak sisi, sampai ngegas langsung ke akun media sosial politisinya.

Justru di titik ini, kalau dia mau, Gavriel punya peluang buat bikin plot twist. Ia bisa nunjukin kalau generasi baru, bahkan dari keluarga dengan track record kelam, bisa milih jalur yang lebih bersih. Tapi itu cuma bisa kejadian kalau dia berani transparan, nggak anti kritik, dan nggak cuma jadi yes-man buat kepentingan politik yang udah lama bercokol.

Kejujuran dalam menjelaskan sikapnya soal isu-isu kontroversial, konsistensi dalam ngebela kepentingan publik, dan keberanian buat beda dari pola lama, itu semua bakal jadi indikator seberapa serius dia pengen keluar dari bayang-bayang e-KTP.

NTT: Bukan Cuma Dapil di Kertas

Di luar semua drama nama belakang, jobdesk paling nyata Gavriel adalah jadi wakil rakyat NTT II. NTT punya PR yang banyak banget: akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, jalan yang masih banyak bolong, air bersih yang belum semua orang nikmatin, listrik yang nggak selalu stabil, dan lapangan kerja yang masih terbatas. Di sisi lain, NTT punya potensi pariwisata dan energi terbarukan yang bisa banget jadi sumber growth kalau bener-bener digarap.

Anak muda di NTT pengin hidup yang nggak kalah dari kota besar: internet lancar, sekolah yang proper, kesempatan kerja yang nggak cuma jadi penonton di daerah sendiri. Keluarga-keluarga di desa pengin layanan negara yang nggak cuma datang pas kampanye. Komunitas lokal berharap pariwisata naik kelas tapi tetap ramah lingkungan dan adil buat warga.

Gavriel punya modal besar buat dorong itu semua: koneksi, pengalaman bisnis, posisi di Komisi I, dan nama yang gampang banget bikin media meliput. Tinggal masalah niat dan prioritas, apakah semua modal itu bakal dimainin buat NTT, atau cuma buat ngeamanin karier politik jangka panjang.

Ujian Besar Buat “Anak Baru” Politik

Judul “Gavriel Novanto: Menerobos Bayang-bayang E-KTP, Menjemput Harapan NTT” pada dasarnya adalah challenge terbuka. Ini bukan sekadar kalimat estetik buat feature, tapi semacam reminder keras: kamu ini siapa, dan kamu mau jadi apa?

Kalau dia cuma ikut arus, publik bakal menganggapnya sebagai bab lanjutan dari buku lama: politik dinasti yang ganti cover doang. Tapi kalau dia berani ambil sikap yang pro rakyat, berani beda, dan konsisten fight buat NTT, bukan nggak mungkin nama “Gavriel” pelan-pelan punya makna sendiri, terpisah dari masa lalu keluarganya.

Yang jelas, di era digital, nggak ada ruang buat pura-pura. Semua terekam, semua bisa dicek. Generasi yang milih dia bakal terus mantau. Dan sekali kecewa, jejaknya bakal ke-save selamanya, bukan cuma di arsip negara, tapi di ingatan kolektif netizen.