ManusiaSenayan.id – Rapat kerja di Senayan kembali menghadirkan satu topik yang sukses bikin anggota dewan manggut-manggut: hilirisasi non-tambang. Yup, setelah bertahun-tahun headline kita isinya nikel–smelter–nikel–smelter, akhirnya pemerintah mencoba bilang, “Guys, kita nggak cuma jago ngolah batu, kita juga bisa ngolah kelapa.”

Menteri Investasi dan Hilirisasi merangkap Kepala BKPM, Rosan Roeslani, memaparkan rencana pembangunan pabrik hilirisasi kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah. Nilai investasinya? Sekitar US$ 100 juta atau Rp 1,66 triliun. Angka yang kalau disebut dalam rapat biasanya bikin mic auto-reverb biar kelihatan makin serius.

Rosan bilang, hilirisasi ini sengaja diperluas biar nggak melulu di sektor mineral. Kali ini targetnya agrikultur, perkebunan, sampai kelautan. Bahasa sederhananya: “Bro, masa negara segede ini hilirisasi cuma di nikel doang? Nanti dikira kita cuma bisa nyampur batu.”

Nah, Morowali bukan cuma tempat smelter berjejer, tapi sekarang juga bakal jadi “kota kelapa industrial”. Proyek pabrik ini katanya bakal menyerap 10 ribu tenaga kerja, dan akan memproses 500 juta butir kelapa per tahun. Itu kalau dibariskan bisa kayak jalur tol Trans Jawa tapi dari kelapa semua.

Menurut Rosan, pabrik tersebut ditargetkan beroperasi pertengahan 2026, alias tinggal beberapa musim hujan lagi. Harapannya, nilai tambah kelapa naik, rakyat senang, investor senang, dan pemerintah bisa bilang, “Tuh kan, kita inovatif juga.”

Sebelumnya, kelapa-kelapa dari daerah itu banyak dijual ke China. Tapi setelah dihitung-hitung, terlalu banyak biaya logistik, terlalu panjang rantai, terlalu jauh jaraknya, dan terlalu ribet pokoknya. Jadi Rosan terbang ke China, presentasi mode on, dan bilang: “Mending bangun pabriknya di Indonesia aja, bro.” Dan investor pun: “Hmm, makes sense.”

Dengan begitu, ekspor bahan mentah bisa dikurangi, harga kelapa lokal naik, dan Indonesia dapat poin keren: hilirisasi perkebunan level internasional. Setidaknya itu teorinya. Eksekusinya? Ya kita tunggu bareng-bareng, sambil berharap pabrik ini beneran jalan, bukan cuma jadi poster rapat kerja.

Pada akhirnya, hilirisasi kelapa ini memberi pesan mendalam: di negeri +62, segala yang bisa dijadikan nilai tambah akan dicoba. Dari batu, nikel, sampai kelapa. Tinggal menunggu kapan durian dan jengkol ikut masuk daftar—barangkali tinggal tunggu investor yang tahan baunya.