ManusiaSenayan.id Halo anak kereta! Lagi rame nih, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dapet sentilan pedas dari Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, pas Rapat Dengar Pendapat di Senayan, Rabu (20/8/2025). Intinya, KAI diminta serius benahin dua hal: sistem kerja dan sistem digital.

Pertama, soal outsourcing. Mufti nyorot praktik kontrak jangka pendek yang bikin tenaga kerja muda insecure—bukan karena cinta, tapi karena kerjaan.

“Kami sering melihat anak-anak muda yang ganteng-ganteng, cantik-cantik, lulusan kampus ternama, tapi hanya dipekerjakan setahun lalu kontraknya dihentikan sebelum Lebaran, hanya agar tidak membayar THR. Ini praktik yang tidak manusiawi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, KAI yang sudah dimodali negara seharusnya nggak cuma ngejar cuan, tapi juga jadi teladan.
KAI sudah dimodali negara, dimudahkan regulasi. Maka perusahaan ini harus menjadi role model ketenagakerjaan nasional. Kami tidak ingin lagi mendengar istilah outsourcing di tubuh KAI dan anak usahanya,” kata politisi PDIP itu.

Kedua, soal refund tiket. Katanya sih udah digital, tapi nyatanya masih ribet kayak urus KRS online.
“Di aplikasi ada pilihan refund, bahkan dua jam sebelum keberangkatan, tapi kenyataannya masyarakat masih harus datang ke stasiun bawa KTP. Ini bukan digitalisasi, ini akal-akalan,” tegas Mufti.

Lebih gawat, DPR dapet laporan duit refund malah nyasar ke rekening pribadi oknum pegawai.
Refund yang diproses ternyata masuk ke rekening oknum. Ini sering terjadi. Kami minta direksi mengecek dan menindak tegas agar kepercayaan publik tidak hilang,” jelasnya.

Satirenya gini: kalau KAI bisa bikin sistem beli tiket sekenceng rebutan konser K-pop, masa urusan refund masih bikin rakyat jalan marathon ke stasiun? Jangan sampai penumpang ngerasa lebih gampang refund mantan daripada refund tiket kereta.