ManusiaSenayan.id kabar duka dari NTT. Prada Lucky Namo, prajurit TNI muda, meninggal dunia diduga akibat dianiaya seniornya di Batalion Teritorial Pembangunan (TP) 834 Waka Nga Mere, Kabupaten Nagekeo.

Anggota Komisi I DPR RI, Andina Thresia Narang, langsung bersuara. “Kita harus menghentikan siklus perundungan dan doktrin-doktrin kekerasan ini dengan memastikan bahwa setiap pelanggaran mendapat sanksi yang setimpal dan transparan. Tidak ada lagi ruang bagi impunitas,” tegasnya.

Andina bilang, ini bukan cuma salah oknum, tapi masalah sistem. Ibaratnya, kalau game udah bug, jangan cuma salahin satu pemain — server-nya juga harus di-patch update. “Siapa pun yang terbukti melakukan kekerasan harus bertanggung jawab penuh atas perbuatannya, tanpa perlindungan institusional atau pembiaran. Keadilan harus ditegakkan demi martabat korban dan integritas TNI,” tambahnya.

Dia juga minta rantai komando dievaluasi dan penyelidikan dibuka transparan. Andina bahkan mendukung Kodam IX/Udayana buat cari titik terang. “Penyelidikan yang transparan dan akuntabel adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan publik,” ujarnya.

Soal tradisi “pendisiplinan fisik”, Andina tegas: hapus. “Fokus utama kita seharusnya adalah membangun TNI yang profesional, tangguh, dan bertanggung jawab… tanpa harus mengorbankan nyawa,” ucapnya.

Biar nggak kejadian lagi, ia usul bikin badan pengawas eksternal. “Pengawasan yang efektif akan menjadi benteng terakhir kita dalam mencegah tindakan kekerasan yang tidak perlu,” tutupnya.

Ya… TNI itu kan tugasnya jaga kedaulatan negara, bukan bikin survival mode internal. Disiplin boleh, tapi kalau ujungnya nyawa taruhannya, itu udah bukan latihan, itu tragedi.