Manusiasenayan.id – Badung, pulau surga tapi vibe-nya lagi low battery — Wakil Ketua PHRI Badung, Komang Alit Ardana, akhirnya jujur juga: kunjungan turis ke Bali Nataru 2025 turun. Gak kayak dulu yang Desember-nya penuh kayak antrean skincare gratisan, tahun ini Bali agak sepi. Sepi yang gimana? Sepi kayak chat gebetan yang tinggal centang satu. Ada, tapi gak ada tenaga.
“Bulan Desember itu memang bule yang sepi, bukan turis lokal,” ujar Alit, santai kayak barista yang udah hafal pesanan pelanggan tetap.
Artinya gini: turis asing pulang buat Natalan di negara masing-masing, karena mereka masih inget rumah. Sedangkan turis domestik? Mereka juga inget rumah… tapi ingetnya pas kapal gak jalan karena macet di pelabuhan.
Alit bilang, fenomena bule pulang Desember itu udah hal biasa, kayak sinetron yang episodenya predictable: bule pulang, lokal datang. Yang bikin bedanya tahun ini bukan script, tapi setting-nya: cuaca ekstrem, bencana, dan angin random yang lebih ganas dari mantan toxic.
Tanda-tanda turis domestik mulai takeover udah kelihatan dari kepadatan kendaraan di Pelabuhan Ketapang, dan Kuta udah rame sama pelat luar Bali. Kalo plat kendaraan bisa ngomong, mungkin isinya:
“Bro, kita gak liburan. Kita migrasi massal.”
Kuta sekarang udah macet duluan, padahal bule-nya belum nyampe. Itu ibarat bioskop penuh, tapi film-nya belum mulai, kursinya udah habis karena yang nonton parkir sembarangan.
Soal okupansi hotel 60–70%, Alit bilang itu cuma fase prolog. Mulai 24 Desember ke atas, full booking. Bahkan katanya “over”, alias udah bukan penuh lagi, tapi Bali: Edisi Pre-Order Penduduk.
“Sampai pertengahan Januari ini full, karena orang cuti bareng,” tambahnya.
Ya, cuti bareng. Bareng-bareng juga stuck di jalan.
Lalu muncul drama lain: banyak video di sosmed yang banding-bandingin Bali sama Thailand, Malaysia, Singapura. Menurut Alit ini gak adil, karena itu negara, sedangkan Bali cuma pulau.
Dan beliau benar. Bandingin Bali sama negara lain itu kayak bandingin:
- Sepeda BMX vs MRT Bundaran HI
- Dua-duanya transportasi, tapi satu bisa bikin stunt, satunya bikin “kamu di mana? Aku udah 2 jam di stasiun.”
“Kalau mau lawan, ya Indonesia vs negara, bukan pulau vs negara,” katanya.
Bener juga. Kalo mau battle, sekalian aja: Bali vs ASEAN. Biar chaos-nya proporsional.
Tapi meski turun, Alit tetap yakin: Bali masih aman dikunjungi.
Aman? Iya.
Tenang? Relatif.
Macet? Pasti.
Karena di Bali, yang lebih padat dari jadwal wisatawan Desember adalah algoritma kendaraan masuk tanpa filter.
Akhirnya Alit mengajak semua pihak promosi pariwisata Bali. Semacam reminder nasional:
“Ayo promosikan Bali. Biar bule tahu, kita bukan menghilang, kita cuma terjebak dulu di akses masuknya.”
