ManusiaSenayan.id Sawit Indonesia lagi-lagi jadi sasaran “komentar netizen internasional” yang kadang pedes, kadang ngadi-ngadi, tapi selalu bikin kita auto defensif. Nah, Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo bilang: udah cukup. Pemerintah diminta jangan cuma jadi mode “klarifikasi”, tapi harus lebih agresif membangun diplomasi internasional dan ngelawan disinformasi global soal sawit. Intinya: jangan kebanyakan minta dipahami, tapi tampil dengan data dan sikap tegas.

Firman ngomong lugas, dan ini kutipannya persis: “Kita tidak boleh terus minta dimengerti. Kita harus bicara tegas, berbasis data, dan membela kepentingan petani serta bangsa kita sendiri,”. Jadi bukan perang caption, tapi perang fakta.

Menurut dia, industri sawit kita sering kena kampanye negatif yang kelihatannya “peduli lingkungan”, tapi ada plot twist: kadang diboncengin kepentingan ekonomi dan proteksionisme dagang negara maju, khususnya Eropa. Sawit dituduh biang deforestasi, perusak lingkungan, sampai pelanggar HAM—sementara konteks global dan perbandingan dengan komoditas lain sering di-skip kayak intro YouTube.

Firman juga nyentil standar ganda. Kutipan asli lagi: “Kalau bicara lingkungan, harus adil. Jangan hanya sawit yang disorot, sementara kedelai, bunga matahari, atau rapeseed yang butuh lahan jauh lebih luas justru tidak pernah dipersoalkan,”. Maksudnya: kalau mau adil, jangan cuma sawit yang jadi “kambing hitam premium”.

Soal keberlanjutan, Firman mengakui itu tetap penting. Tapi Indonesia juga udah gerak: ada sertifikasi ISPO, moratorium izin baru, dan penguatan transparansi tata kelola. Dia menegaskan: “Indonesia dan Malaysia sudah bergerak ke arah industri sawit berkelanjutan. Ini fakta yang sering diabaikan oleh NGO dan negara-negara pengkritik,”.

Terakhir, ia bilang sawit nggak otomatis identik dengan rusak lingkungan. Dengan pengelolaan yang benar, sawit bisa punya kontribusi ekologis, termasuk penyerapan karbon dan perbaikan tata guna lahan. Dan penutupnya ini juga tepat: “Yang harus kita lawan bukan sawitnya, tapi praktik buruknya. Kalau dikelola dengan benar, sawit justru seharusnya bisa menjadi solusi, bukan masalah yang mesti kita khawatirkan,”.

Jadi kesimpulannya: diplomasi harus makin sat-set, data harus jadi senjata utama, dan narasi sawit Indonesia jangan kalah sama rumor. Sopan, tegas, dan tetap pro petani.