Manusiasenayan.id – Tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menyisakan duka sekaligus pertanyaan publik. Namun, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian menegaskan satu hal penting: kasus ini tidak berkaitan langsung dengan penggunaan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lalu menilai, persoalan utama justru terletak pada penyaluran bantuan pendidikan yang belum berjalan optimal di lapangan. Ia meminta publik tidak gegabah mengaitkan tragedi ini dengan kebijakan nasional yang masih berjalan.
“MBG pada prinsipnya tidak akan mengganggu anggaran pendidikan,” kata Lalu.
Menurut politikus PKB itu, pemerintah pusat sudah mengantongi komitmen kuat untuk menambah anggaran pendidikan, termasuk lewat revitalisasi sarana dan prasarana sekolah. Presiden, kata dia, menargetkan perbaikan 60 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
“Artinya, anggaran pendidikan justru akan ditambah, bahkan bisa melampaui 20 persen mandatory spending sesuai amanat konstitusi,” ujarnya.
Meski demikian, Lalu mengaku tetap membuka telinga terhadap kritik dan masukan masyarakat. Ia menilai tragedi di Ngada harus dibaca lebih dalam, terutama jika merujuk pada kronologi kejadian yang beredar.
“Kalau kita baca kronologinya, Program Indonesia Pintar (PIP) sebenarnya sudah masuk, tapi penyalurannya belum maksimal,” ucapnya.
Menurut Lalu, di titik inilah masalah serius muncul. Bantuan yang tersendat berpotensi memicu tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Kita harus cari tahu, kenapa penyaluran ini tidak berjalan optimal, sampai akhirnya anak merasa tertekan dan frustrasi karena kondisi ekonomi,” tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah agar benar-benar memastikan Sekolah Rakyat tepat sasaran. Menurutnya, sekolah yang ditujukan untuk keluarga miskin harus bisa diakses dan dimanfaatkan secara nyata.
“Pemda Ngada dan Pemprov NTT harus duduk bersama dengan sekolah dan keluarga. Pastikan Sekolah Rakyat ini betul-betul hadir untuk warga miskin, bukan cuma jadi program di atas kertas,” katanya.
Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu. Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya, sekaligus pesan perpisahan yang menyayat hati.
Tragedi ini kembali menjadi alarm keras bahwa negara tak boleh lengah dalam memastikan bantuan pendidikan tepat waktu, tepat sasaran, dan benar-benar sampai ke anak-anak yang membutuhkan.
