ManusiaSenayan.id – Kalau di dunia arsitektur ada prinsip “gambar dulu, baru bangun”, di politik sering kejadian sebaliknya: rame dulu, bentuknya nyusul. Teguh Iswara datang dari dunia yang kebiasaannya lebih tertib. Buat dia, sebelum sesuatu dipakai orang banyak, semuanya harus dihitung—detail, risiko, dan dampak. Cara pikir inilah yang dia bawa waktu pindah dari meja gambar ke meja parlemen.
Teguh Iswara Suardi lahir di Makassar, 25 Januari 1990. Masa mudanya banyak diisi dengan dunia pendidikan dan teknik. Dia menempuh studi arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, sebelum melanjutkan pendidikan magister di KU Leuven, Belgia. Di sana, dia bersentuhan dengan pendekatan perencanaan kota berkelanjutan, yang menekankan keselamatan dan fungsi jangka panjang, bukan sekadar tampilan.
Sebelum politik masuk ke hidupnya, Teguh lebih dulu kenyang pengalaman di dunia kerja. Dia pernah mengajar paruh waktu di SMA Alfa Centauri, lalu terjun sebagai arsitek properti dan konsultan. Pengalaman ini berlanjut ke luar negeri saat dia bergabung dengan OASA Architecten di Leiden, Belanda. Di fase ini, dia terbiasa dengan standar ketat, detail teknis presisi, dan evaluasi disiplin. Sepulang ke Indonesia, Teguh juga sempat mengajar sebagai dosen Universitas Hasanuddin.
Jalur itu bikin latar belakang Teguh kebaca utuh. Jadi ketika dia masuk politik lewat Pemilu 2024 (Dapil Sulawesi Selatan II, 60.232 suara) dan terpilih sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem periode 2024–2029, pergeseran perannya terasa organik. Penempatannya di Komisi V—yang mengurusi infrastruktur, transportasi, perumahan, dan kebencanaan—terlihat sebagai kelanjutan logis.
Masuk Komisi V, Teguh ngambil jalur yang nggak selalu viral tapi krusial: quality control. Dia sering menyoroti marka jalan, lampu penerangan, sistem tol, dan kesiapan posko mudik. Buat dia, keselamatan publik justru ditentukan oleh detail-detail kecil. Pendekatannya khas anak teknik: bukan cuma ada proyek, tapi apakah layanan berjalan dan infrastruktur dirawat.
Sebagai wakil rakyat dari Sulawesi Selatan II, Teguh memberi perhatian pada desa. Jalan yang nyambung, rumah layak, akses transportasi, hingga mitigasi bencana adalah fondasi kualitas hidup. Di sini, latar belakang arsitek kembali terasa—pembangunan sebagai perawatan ruang hidup, bukan sekadar angka proyek.
Perjalanan Teguh Iswara dari meja gambar ke meja parlemen memberi warna berbeda di tengah politik yang berisik. Dia menunjukkan bahwa latar teknis adalah cara berpikir: presisi, tanggung jawab, dan fokus pada rakyat. Karena pada akhirnya, negara adalah bangunan besar, dan kita semua penghuninya.
