ManusiaSenayan.id – Endang Setyawati Thohari — akrab dipanggil Ibu Endang — bukan politisi yang muncul tiba-tiba di Senayan. Jejak hidupnya sudah lama bersentuhan dengan pertanian, pangan, dan perikanan, jauh sebelum ia duduk di kursi Komisi IV DPR RI.

Lahir di Cirebon, Endang menempuh pendidikan S1 di Universitas Diponegoro jurusan pertanian, lalu melanjutkan studi S2 dan S3 di Prancis dalam bidang agronomi. Setelah pulang, ia berkarya di Kementerian Pertanian. Kariernya cukup panjang: dari Direktur Pembiayaan hingga Kepala Pusat Pembiayaan Pertanian. Artinya, pembahasan soal pupuk, benih, irigasi, atau kredit untuk petani bukan sekadar teori baginya, tapi sudah jadi keseharian kerja.

Tahun 2019, ia maju dan terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Jawa Barat III (Bogor–Cianjur) lewat Fraksi Gerindra. Dari sinilah perjalanan “sawah dan laut” itu berlanjut ke Senayan. Duduk di Komisi IV yang membidangi pertanian, pangan, perikanan, dan kehutanan, Ibu Endang menjadikan pengalamannya sebagai modal untuk memperjuangkan kebijakan.

Kalau dilihat dari rekam jejak, fokus utamanya jelas: memastikan anggaran dan program tepat sasaran ke akar rumput. Saat reses, ia rutin turun langsung ke lapangan. Dari ketemu kelompok wanita tani, pembudidaya ikan, sampai pemuda desa yang ikut program pelatihan. Banyak bantuan yang ia kawal, mulai dari sarana budidaya, program ketahanan pangan, hingga pendampingan kelompok. Di media lokal Bogor dan Cianjur, aktivitasnya sering dilaporkan, lengkap dengan dokumentasi distribusi bantuan dan pembinaan.

Tapi jadi anggota Komisi IV bukan cuma soal bagi-bagi program. Ada tantangan gede yang ia hadapi: anggaran kementerian yang sering dipangkas, isu ketersediaan pupuk, sampai kebutuhan modernisasi teknologi pertanian dan perikanan. Di Senayan, Endang vokal mengingatkan pemerintah soal benih, parent stok ikan, serta pembiayaan agar produktivitas meningkat. Menurutnya, kebijakan harus nyambung: dari rapat di gedung DPR sampai sawah, tambak, dan pasar.

Yang menarik, gaya Endang cukup relevan buat generasi muda. Ia lebih mirip mentor yang hands-on ketimbang politisi jarak jauh. Lewat kegiatan di desa, dialog publik, sampai postingan di kanal resmi, ia coba bikin politik terasa nyata manfaatnya. Banyak anak muda tani dan pemuda desa yang ikut terlibat di program yang ia dorong.

Singkatnya, perjalanan Endang Thohari bisa dibaca sebagai kisah lintas ruang: dari sawah dan laut tempat masalah nyata muncul, ke Senayan tempat kebijakan dibuat. Buat anak muda yang kadang skeptis sama politik, Endang kasih contoh sederhana: perubahan itu butuh kombinasi ilmu, pengalaman lapangan, dan konsistensi. Sama kayak bertani — hasil panen nggak datang dari janji, tapi dari kerja keras merawatnya.